Pengondisian muatan di Pelabuhan Feri Kariangau, Balikpapan seperti mata rantai saling menguntungkan. Banyak pihak yang terlibat. Rupiah mengalir ke kantong-kantong pribadi.

 

DALAM perjalanan menuju Pelabuhan Feri Kariangau, Balikpapan, telepon genggam Rendra –bukan nama sebenarnya-- berdering. Di ujung handphone itu, dia berbicara dengan seseorang. Diduga lawan teleponnya adalah seorang calo yang mencari truk-truk di luar pelabuhan feri.

Pada Rabu (19/5) sekitar pukul 19.25 Wita, Kaltim Post menelusuri aktivitas calo mengumpulkan truk-truk di luar Pelabuhan Feri Kariangau, Balikpapan. Dengan menumpang di truk yang dikendarai Rendra. Malam itu, pria yang mengaku masih lajang tersebut berencana mengantar barang ke Kecamatan Muara Komam, Paser.

Percakapan Rendra tak lama berakhir. Dia bercerita, pria yang menghubunginya itu adalah calo yang biasa mencari kendaraan di luar pelabuhan. Dia ingin memastikan kepada dirinya apakah jadi berangkat atau tidak. “Jadi sebelumnya saya juga sudah hubungi dia. Nanya jadwal feri,” katanya.

Sama seperti Bagus, sopir truk yang ditumpangi Kaltim Post ke Penajam Paser Utara lewat Pelabuhan Feri Kariangau pada Senin (24/5), Rendra juga sudah hafal aktivitas para calo yang mencari sopir truk. Terlebih keberadaan calo itu menguntungkan sopir. “Ya hitung-hitung saya juga dapat uang rokok Mas dari cashback itu,” bebernya.

Pemberian cashback kepada para sopir seperti jadi hal yang lumrah. Bahkan sopir truk juga berbondong-bondong mendatangi calo. Tentu dari biaya tiket feri yang dibayarkan, sopir juga mendapatkan cashback. “Perusahaan saya yang membayar feri. Terus saya dapat cashback dari warga (calo) itu. Ya, siapa yang enggak mau, Mas,” kelakarnya.

Namun, Rendra tidak tahu setelah mengikuti antrean jam berangkat, dia akan diarahkan ke feri perusahaan pelayaran mana. Baginya itu tidak penting. “Yang penting bisa dapat uang buat beli makan dan rokok, cukup,” tuturnya.

Rendra kemudian menyetopkan truknya di depan kantor PT Buma Support Facilities Kariangau. Di situ sudah banyak truk-truk berjejer. Mereka diduga menunggu feri milik PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry (Persero).

Tak lama kemudian, dua orang calo datang. Rendra turun dari truk. Mereka bernegosiasi. Sementara satu calo lainnya memfoto truk roda enam yang ditumpangi Kaltim Post. Negosiasi selesai, Rendra dapat Rp 100 ribu.

Sementara dari kejauhan, terlihat sejumlah calo berdiri di pinggir jalan. Dia mencoba menawari beberapa truk yang melintas di depannya. “Para calo itu tidak memaksa kami harus ikut mereka. Kalau sopirnya buru-buru, ya mereka langsung ke pelabuhan. Ngikuti jadwal feri yang normal. Tapi ‘kan enggak dapat cashback,” bebernya.

Para calo mengincar truk-truk sebagai target. Mengingat tarif yang dikenakan untuk masuk feri cukup besar. Sebagai gambaran truk yang ditumpangi Kaltim Post ini masuk golongan VI barang. Tarif feri yang dikenakan sebesar Rp 640 ribu. Semakin tinggi golongannya, kian mahal tarifnya. Tarif termahal adalah golongan VII (khusus BBM/LPG) sebesar Rp 1.550.800.

Pada pukul 20.50 Wita, calo memberi aba-aba kepada sopir truk untuk jalan menuju Pelabuhan Feri Kariangau. Jaraknya hanya sekitar 2 kilometer dari titik parkir. Truk yang ditumpangi Kaltim Post pun bergerak menuju pelabuhan. Begitu juga truk lainnya yang parkir. Namun, malam itu, awak media ini memutuskan untuk tidak ikut ke pelabuhan.

JUAL KE PERUSAHAAN LAIN

Aktivitas calo yang mencari truk di luar pelabuhan itu diduga tak hanya “menjual” kendaraan ke feri PT ASDP Indonesia Ferry. “Biasanya mereka ingin cari uang tambahan. Jadi truk yang mereka dapat dikasih ke perusahaan lain selain ASDP. Biasanya itu setelah feri ASDP penuh. Ada kelebihan. Nah itu yang dikasih ke perusahaan lain,” ungkap sumber yang enggan disebutkan namanya itu.

Meski diberikan ke feri dari perusahaan lain, tidak semua mau menerima. Namun, sumber tidak mengetahui secara pasti. Mengapa perusahaan lain menolak. Tapi ada saja perusahaan yang menerima “limpahan” truk dari calo tersebut.

Seorang sumber yang bekerja di salah satu perusahaan feri di Balikpapan memberi pengakuan. Menurutnya, perusahaan menolak karena angka cashback yang ditawarkan tidak masuk perhitungan ongkos operasional. “Ada keuntungan meski tipis. Tapi, risikonya besar. Jadi kami memilih tidak mengambil,” katanya.

Lantas ketika ditanya, kenapa ASDP berani menerima truk-truk dari calo? Dia enggan berspekulasi. Namun pernah truk-truk masuk ke feri milik ASDP melalui pintu keluar. Patut diduga kuat, truk tersebut tanpa tiket. Juga tidak tertulis dalam produksi kendaraan.

Bila demikian, ada kemungkinan uang pembayaran dari truk tersebut tidak masuk ke kas perusahaan. “Bisa jadi dinikmati oleh oknum-oknum yang terlibat secara perseorangan,” kata dia menduga-menduga.

Namun, tidak semua kendaraan yang ada dalam feri tersebut tanpa tiket. Kendaraan lain, juga bertiket. Yang tak bertiket, biasanya truk. Karena tarifnya mahal. “Ya kalau satu feri itu bisa mengangkut 15 truk atau mobil. Mungkin ada 4-5 yang tanpa tiket. Beberapa bulan lalu gampang menemukannya (truk tak bertiket). Sekarang agak sulit,” ungkapnya.

Sumber yang juga salah satu karyawan perusahaan feri lainnya itu mengaku mendapat tawaran truk dari calo. Menurutnya, bila satu feri dipenuhi truk, secara keuntungan tetap ada.

Margin untungnya lebih besar ketimbang tanpa cashback tapi penumpang sedikit. “Tapi, manajemen di pusat (Jakarta) menolak. Ya saya bisa apa. Kalau diizinkan, mungkin bisa dipertimbangkan. Karena penyumbang pendapatan terbesar ke perusahaan dari truk-truk ini,” bebernya.

Dia mengakui, semua operator juga mencari tumpangan atau kendaraan di luar. Jadi, tidak sekadar mengandalkan kendaraan yang masuk sesuai jadwal. “Bisa jadi truk-truk ini sudah bermitra dengan operator. Sudah langganan. Tapi, tetap ada cashback ke para sopir,” bebernya.

DIBERI GAJI

Kaltim Post mendatangi seorang sumber yang mengetahui aktivitas calo yang mencari truk di luar pelabuhan, Selasa (1/6). Dia menyebut, ada beberapa warga yang terlibat dalam praktik percaloan itu. Yang dia tahu jumlahnya sekitar 10 orang. “Tapi kalau sekarang bertambah, saya belum tahu lagi,” ucap pria yang tinggal di kawasan Kariangau itu.

Untuk satu calo biasanya dibayar Rp 250 ribu per hari. Tugas mereka mencari sebanyak-banyaknya truk untuk dimasukkan ke feri milik PT ASDP Indonesia Ferry. Namun, ada saja sejumlah calo yang melimpahkan truk ke perusahaan lain.

Aktivitas mereka biasanya ada yang mendatangi truk. Bisa jadi sopir truk tersebut tidak mengetahui aktivitas mereka. Sehingga, para calo menawari langsung ke sopir. “Kalau sopir mau, ya ikut. Apalagi dapat cashback, biasanya sopir langsung tergiur. Kecuali sopirnya buru-buru, ya mereka menolak. Karena ‘kan kalau ikut calo enggak bisa cepat masuk feri. Harus ikut jadwal mereka,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, selain bayaran per hari Rp 250 ribu. Calo terkadang mendapatkan pendapatan tambahan. Semisal truk golongan V barang yang memiliki tarif Rp 412 ribu. Biasanya tarif itu dipotong Rp 100 ribu. Nanti Rp 75 ribu diberikan ke sopir truk sebagai cashback. Sedangkan Rp 25 ribunya diberikan ke calo. Namun, tidak semua kendaraan diterapkan aturan main demikian.

Sumber mengungkapkan, dulu banyak sopir truk tidak dilengkapi tiket. Terlebih mereka yang memang tidak memerlukan tiket sebagai bukti pembayaran ke perusahaan masing-masing. “Jadi, mereka masuk feri ya tanpa tiket. Bayarnya ke calo atau nanti di dalam feri,” ucapnya. (rom/k15)