Peliput: Romdani dan M Ridhuan

 

 

Memuat kendaraan di Pelabuhan Feri Kariangau, Balikpapan berlumur kongkalikong perusahaan, pejabat hingga calo. Angka kendaraan dengan jumlah feri di Pelabuhan Feri Kariangau yang timpang diduga jadi pemicu. Kaltim Post selama berbulan-bulan menelusuri permainan curang tersebut. Angka kendaraan dengan jumlah feri di Pelabuhan Feri Kariangau diduga timpang. Kondisi itu dimanfaatkan oleh sejumlah operator bermain curang. Bahkan menggunakan jasa warga bak seorang marketing mengumpulkan kendaraan. Selanjutnya, masuk ke feri milik perusahaan. Kaltim Post melakukan investigasi selama beberapa bulan belakangan.

 

JEJERAN truk tersusun rapi di beberapa titik di pinggir jalan tak jauh dari Pelabuhan Feri Kariangau, Balikpapan, Senin (24/5) sekitar pukul 16.05 Wita. Namun, yang terlihat mencolok berada di seberang kantor PT Buma Support Facilities Kariangau.

Tak jauh dari lokasi tersebut, terdapat warung kopi. Di situ jadi pusat berkumpul sejumlah warga. Warga yang ditengarai menjadi calo yang mencari truk. Yang kemudian truk-truk tersebut “dijual” ke salah satu perusahaan jasa pelayaran yang mengoperasikan feri. Mereka diduga kuat terafiliasi dengan PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry (Persero).

Warga yang berkumpul di warung kopi tersebut, ada yang sekadar duduk di pinggir jalan. Sementara ada yang nongkrong di warung. Namun yang sedikit ganjil, di antara dari mereka ada yang mengatur lalu lintas jalan. Padahal jalan di kawasan itu tidak ada yang rusak. Begitu pula aktivitas yang membuat macet. Pemandangan yang menjadi anomali bagi pengendara yang tak tahu.

Keberadaan warga itu mengatur truk-truk yang parkir di pinggir jalan tak jauh dari warung kopi tadi. Truk yang besar hingga jejeran yang memanjang, membuat mau tak mau kendaraan itu memakan badan jalan. Warga yang diketahui menjadi calo pun terpaksa mengatur jalan.

Sekitar pukul 16.15 Wita, truk mulai bergerak. Mereka berjalan menuju Pelabuhan Feri Kariangau. Dari pantauan media ini, setelah masuk melalui loket tiket, truk menuju feri KMP Goropa. Kapal feri itu diketahui milik PT ASDP Indonesia Ferry.

Ada hal yang janggal, membuat Kaltim Post ingin menelusuri lebih dalam praktik tak sehat tersebut. Keesokan harinya, Selasa (25/5), awak media ini bekerja sama dengan sebuah perusahaan logistik di Balikpapan. Di mana Kaltim Post menumpang di salah satu truk mereka.

Siang itu, setelah mendapatkan nomor kontak sopir truk dari pimpinan perusahaan, media ini mengatur siasat. Akhirnya disepakati, status awak koran ini di truk tersebut berpura-pura menjadi kernet. Agar bisa ikut truk tersebut menuju Penajam Paser Utara (PPU).

Sebut saja nama sopir itu Bagus --bukan nama sebenarnya. Dia memberi kabar akan menuju pelabuhan feri pada pukul 21.00 Wita. Lalu, awak media ini dijemput oleh sopir tersebut di sekitar Jalan Projakal --akses menuju Pelabuhan Feri Kariangau-- pada pukul 21.20 Wita.

Truk roda enam itu mengangkut spare partalat berat. Rencananya, peralatan itu akan dikirim ke Kalsel. Seperti yang diperkirakan, sopir truk memang sudah memahami permainan cashback di jalur feri. Dengan begitu, calo yang mengumpulkan kendaraan pun tak perlu repot-repot mencari truk. “Sebenarnya, para sopir truk juga memerlukan mereka (calo). Itung-itung kami dapat uang rokok,” ungkap Bagus.

Bagus juga sepertinya sudah paham di mana lokasi penyetopan truk-truk tersebut. Yakni di warung kopi tak jauh dari kantor PT Buma Support Facilities Kariangau. Tanpa diperintah, sekitar pukul 21.41 Wita dia memarkirkan kendaraannya di warung tersebut.

Sejurus kemudian, dua orang calo datang ke arah truk. Seorang calo memfoto kendaraan, sedangkan satunya lagi mendatangi sopir. Sopir di atas truk ngobrol dengan calo. Namun, suaranya tidak begitu jelas. Sopir pun turun menuju warung. Sementara awak media ini hanya mengamati dari dalam kabin.

Sekitar 5 menit mereka ngobrol, Bagus kembali ke truk. “Sudah deal. Saya dapat Rp 100 ribu. Kita naik feri jam 11 lewat (malam),” akunya. Bagus menyebut, cara itu merupakan proses negosiasi antara sopir dengan calo. “Ya, kami perlu uang rokok. Mereka juga perlu mencari tumpangan. Sama-sama mencari uang, he-he,” sambungnya.

Kemudian, Bagus mengajak awak media ini keluar menuju warung. Sambil menunggu jam keberangkatan feri. Sementara beberapa calo sibuk ngobrol dengan teman-temannya sesama calo.

Selang kemudian, ada calo yang kembali memfoto truk dan nomor pelat. Diduga nomor pelat itu yang akan dilaporkan ke petugas atau karyawan perusahaan pelayaran di Pelabuhan Feri Kariangau. Selanjutnya, karyawan tersebut yang akan memberikan cashback.

Bagus menyebut, dalam negosiasi itu, sopir truk juga harus punya nilai tawar. Sehingga, jangan sampai hanya mengikuti kemauan calo. Besaran cashback yang didapat para sopir juga berbeda-beda. Bergantung mahal-tidaknya tiket berdasarkan golongan kendaraan.

Dia memberi gambaran. Untuk truk yang dia kendarai masuk golongan VI barang. Tarif feri yang dikenakan sebesar Rp 640 ribu. “Tapi, saya enggak melulu dapat cashback Rp 100 ribu. Pernah juga dapat Rp 75 ribu. Bergantung calo dan kami menawar,” terangnya.

Bahkan, lanjut dia, untuk ukuran truk yang lebih kecil seperti golongan V barang, biasanya cashback hanya sekitar Rp 50 ribu. Untuk golongan itu, tarif tiket penyeberangan feri Kariangau-Penajam sebesar Rp 412 ribu.

Dalam sepekan, Bagus bisa mengirim barang ke daerah Kalsel 1-2 kali. Tak hanya ke arah sana, namun juga kirim spare part alat berat ke wilayah Berau, Kutai Timur, dan Kutai Barat. “Kami melayani perusahaan-perusahaan tambang,” jelasnya.

Bagus mengungkapkan, praktik cashback itu diduga sengaja diciptakan untuk mengejar tumpangan. Sehingga, feri bisa setiap saat penuh. Namun, cara itu merugikan perusahaan pelayaran lainnya. Mengingat kendaraan yang dikumpulkan calo diduga hanya diarahkan ke feri milik PT ASDP Indonesia Ferry.

Dulu, kata dia, yang mengumpulkan truk bukan warga atau calo. Melainkan petugas. Namun, dia tak tahu persis, petugas tersebut apakah berasal dari operator atau aparat pemerintah. “Bahkan dulu calo itu bebas belikan tiket di loket. Lalu tiketnya diberikan ke kami. Jadi, cashback bisa langsung kami dapatkan saat truk masih parkir di luar pelabuhan,” beber pria berusia 30 tahun itu.

MASUK KE FERI

Tak terasa 30 menit berlalu obrolan bersama Bagus. Sekitar pukul 22.15 Wita, calo memberikan aba-aba kepada sopir truk yang parkir untuk berjalan ke pelabuhan. Satu demi satu, truk yang “mengular” di sekitar warung kopi tadi bergerak ke feri. Truk pun secara bergantian masuk ke loket pembayaran tiket.

“Nanti, di loket saya akan memberikan Rp 700 ribu. Kita lihat sama-sama, apakah petugas yang memberikan Rp 100 ribu ke saya. Atau cashback diberikan di dalam feri. Nanti Mas-nya lihat sendiri,” ucap bapak satu anak itu.

Bagus pun memberikan uang sebesar Rp 700 ribu kepada petugas loket. Selanjutnya, petugas memberikan pengembalian uang sebesar Rp 40 ribu. “Nah, lihat sendiri. Saya dapat pengembalian Rp 40 ribu. Berarti di dalam nanti cashback-nya. Bukan di loket,” tutur dia.

Sekitar pukul 22.30 Wita, truk masuk ke KMP Goropa, feri milik PT ASDP Indonesia Ferry. Sopir memberikan tiket kepada petugas perusahaan pelayaran pelat merah tersebut yang berjaga di pintu feri. Selanjutnya, petugas mengembalikan potongan tiket beserta uang sebesar Rp 100 ribu, uang pecahan Rp 50 ribu dua lembar. Feri pun berlayar menuju Penajam. Tiba sekitar pukul 23.44 Wita. Kendaraan secara bergantian keluar.

Adapun Pelabuhan Feri Penajam saat ini dikelola oleh ASDP Indonesia Ferry. Sedangkan Pelabuhan Feri Kariangau dikelola oleh Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Wilayah XVII Kaltim-Kaltara.

Senin dua hari lalu, Kaltim Postkembali mendatangi Pelabuhan Feri Kariangau. Pemandangan serupa masih terlihat jelas. Truk-truk berjejer rapi saat media ini datang ke kawasan Kariangau sekitar pukul 16.35 Wita. Truk menumpuk di depan kantor PT Buma Support Facilities Kariangau. Pukul 16.58 Wita jejeran truk tersebut bergerak menuju Pelabuhan Feri Kariangau. Mereka masuk ke feri KMP Dingkis, milik PT ASDP Indonesia Ferry.

SEDANG DIBENAHI

Kaltim Post sebenarnya sudah mengamati perilaku pengondisian kendaraan di luar Pelabuhan Feri Kariangau itu sejak 2019. Namun, isunya kerap timbul tenggelam. Hingga beberapa bulan belakangan, koran ini kembali intens menelusuri.

Kepala BPTD Wilayah XVII Kaltim-Kaltara Avi Mukti Amin mengaku, sudah mengetahui gelagat kurang beres dari aktivitas muat kendaraan di Pelabuhan Feri Kariangau. Namun, pihaknya tidak bisa menindak calo yang mencari kendaraan di luar pelabuhan.

Menurutnya, bila aktivitas itu berada di dalam pelabuhan, maka pihaknya bisa bertindak. Meski demikian, bukan berarti BPTD Wilayah XVII Kaltim-Kaltara tinggal diam. “Kami sudah pernah melapor ke Polda Kaltim terkait adanya oknum warga yang mengumpulkan kendaraan di luar pelabuhan. Saya kira sudah ditanggapi,” ucapnya kala ditemui di kantornya, Senin (31/5).

Di luar adanya aktivitas warga yang mengumpulkan truk itu, Avi menggarisbawahi, bahwa setiap sopir juga punya hak menentukan feri mana yang akan mereka pakai. Apalagi semua perusahaan pelayaran juga memasang jam perjalanan feri mereka di Pelabuhan Kariangau. Juga dilengkapi nomor kontak yang bisa dihubungi.

“Apa itu salah? Kalau saya melihat dari kacamata bisnis, itu bukan sebuah monopoli. Saya melihat ini seperti bisnis penerbangan. Penumpang berhak memilih maskapai. Seperti halnya di feri, kembali ke masing-masing sopir. Mana yang terbaik, itu yang mereka pilih,” ungkapnya.

Dia menekankan, yang disebut monopoli adalah bila pengondisian truk tersebut berada dalam wilayah pelabuhan. Kemudian sopir diarahkan ke salah satu perusahaan pelayaran. Tapi, faktanya tidak begitu. “Karena bisnisnya ini (warga mengumpulkan truk) di luar wilayah kerja kami, maka itu di luar kewenangan BPTD,” tegasnya.

Ditanya apakah sistem cashback itu adalah pelanggaran? Avi menjawab diplomatis. Baginya, persoalan itu adalah urusan warga dengan perusahaan pelayaran. Namun menurutnya, sistem cashback yang diberikan perusahaan kepada para sopir itu merupakan bagian dari teknik marketing. “Saya tahu, ada cashback Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu. Bisa jadi ke depan tak hanya cashback, tapi sopir bisa mendapatkan tawaran menggiurkan lainnya dari perusahaan,” ucapnya.

Meski adanya cashback, kata dia, BPTD tetap menagih penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sesuai aturan. Sekalipun, pendapatan perusahaan berkurang setelah ada cashback. Bukan berarti pembayaran PNBP bakal berkurang. “Bagaimanapun cara mereka (perusahaan pelayaran) mencari penumpang, ketentuan mereka membayar PNBP tidak berubah,” tegasnya.

Terlebih, lanjut dia, persoalan PNBP tersebut sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2016 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis PNBP yang Berlaku pada Kementerian Perhubungan.

Ada dugaan permainan cashback itu membuat angka produksi kendaraan di Pelabuhan Feri Kariangau dimanipulasi. Bahkan memunculkan potensi adanya kongkalikong antara perusahaan dengan oknum di BPTD Kaltim-Kaltara. Menanggapi itu, Avi memastikan data kendaraan berjalan real time. Sehingga, sulit bagi oknum di BPTD maupun di Pelabuhan Feri Kariangau untuk memainkan data.

Sementara itu, dalam penelusuran Kaltim Post, ada sejumlah truk ditemukan tanpa dilengkapi tiket. Avi menyebut, dirinya belum menemukan hal itu selama lima bulan menjadi kepala BPTD Kaltim-Kaltara. Tapi dia memastikan, bila ada oknum di BPTD yang bermain curang, maka dia tak segan bakal menindak hingga memidanakan.

Lantas apakah angka produksi kendaraan di Pelabuhan Feri Kariangau tidak diaudit. Sehingga mengetahui apakah angkanya real? Dia memastikan, audit internal selalu dilakukan oleh pihaknya. Namun untuk audit dari luar, seperti Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) atau Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) belum ada. “Rasanya mereka juga tidak berhak (mengaudit). Kecuali ada temuan,” katanya.

Lalu, bagaimana dengan adanya sejumlah truk yang pernah masuk lewat pintu keluar. Bahkan mereka diduga kuat tanpa dilengkapi tiket. Itu juga dibuktikan lewat video berdurasi 25 detik yang diperoleh Kaltim Post. Di mana video itu diambil pada 9 April 2021 pukul 19.00 Wita di Pelabuhan Feri Kariangau.

Dari tayangan video itu terlihat jelas, truk berjejer masuk ke feri lewat pintu keluar. Avi menilai itu bagian dari kelemahan Pelabuhan Feri Kariangau. Menurutnya, akses masuk pelabuhan ada yang rusak. Sehingga menyulitkan kendaraan masuk. “Kami mau membenahi infrastruktur. Tapi, terkendala kepemilikan aset. Pelabuhan Feri Kariangau milik Pemkot Balikpapan,” tutur dia.

Lima bulan menjabat di Balikpapan, dia sudah melakukan sejumlah pembenahan. Di antaranya, mengganti Koordinator Satuan Pelayanan (Korsatpel) Pelabuhan Feri Kariangau. Lalu memutasi sejumlah sumber daya manusia (SDM) di BPTD Kaltim-Kaltara. “Yang masih dalam rencana adalah pembayaran nontunai. Supaya tidak ada lagi permainan dan uang cash beredar di pelabuhan,” terang Avi.

Selain itu, BPTD menerapkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 122 Tahun 2018 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Perhubungan. Di mana pihaknya sejak 1 Juni sudah bisa mengeluarkan surat persetujuan berlayar dan surat persetujuan olah gerak feri. Sebelumnya, dokumen itu yang mengeluarkan adalah Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Balikpapan.

Kepala KSOP Kelas I Balikpapan Muhammad Takwim Masuku membenarkan itu. Meski KSOP Balikpapan tak lagi mengurusi surat persetujuan berlayar dan surat persetujuan olah gerak feri, pihaknya tetap bersedia bila diminta memberikan pendampingan. “Selama proses peralihan,” katanya, Senin (7/6).

Korsatpel Pelabuhan Feri Kariangau Heriyawan menambahkan, adanya pengondisian kendaraan di luar pelabuhan, bukan jadi kewenangan pihaknya. Sehingga dirinya tidak bisa melarang ada calo mencari kendaraan untuk salah satu perusahaan pelayaran. “Namun ke depan, kami akan mencoba sistem pembayaran nontunai,” ujarnya.

Dia mengakui, pengondisian kendaraan di luar pelabuhan terjadi bukan tanpa sebab. Salah satu penyebabnya, angka kendaraan dengan jumlah feri yang beroperasi dinilai timpang. Jumlah feri dengan kendaraan tidak seimbang. “Feri yang beroperasi menurut saya terlalu banyak,” bebernya.

Di mana saat ini ada enam perusahaan pelayaran yang beroperasi. Yakni, PT ASDP Indonesia Ferry, PT Jembatan Nusantara, PT Pelayaran Sadena Mitra Bahari, PT Dharma Lautan Utama, PT Pasca Dana Sundari, dan PT Bahtera Samudra. Total kapal feri dari semua perusahaan itu sebanyak 18 unit. Namun yang dioperasikan sebanyak 12 feri. “Yang enam diistirahatkan. Nanti bergantian beroperasi,” katanya.

DALAM PENGAWASAN

Penerapan cashback hingga dugaan pelanggaran pengaturan muatan yang tidak transparan di Pelabuhan Kariangau sebenarnya sudah didengar oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Kalimantan. Dua tahun lalu, KPPU pun menurunkan tim untuk melakukan investigasi.

“Dalam pengamatan awal, untuk sistem cashback ini muncul karena sepinya muatan dengan banyaknya operator di Pelabuhan Feri Kariangau,” ucap Kepala Kantor Wilayah V KPPU Kalimantan, M Hendry Setyawan.

Dijelaskannya, Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat mengatur soal pengaturan tarif. Namun dalam prosesnya, tarif itu harus ditentukan oleh regulator. Meski kebanyakan yang ditemukan karena adanya kesepakatan bersama dengan asosiasi yang menaungi pelaku usaha atau operator.

“Nah, di pelabuhan ini kebanyakan tarif yang ada melalui kesepakatan. Dan kesepakatan ini biasanya kemudian dijadikan regulasi. Sehingga, KPPU hanya bisa memberikan saran dan pertimbangan,” jelasnya.

Sistem cashback itu berpotensi melanggar Pasal 20 UU Nomor 5/1999, khususnya terkait upaya jual rugi dan/atau penetapan harga yang sangat rendah. Meski demikian, pihaknya masih akan melakukan kajian mendalam terkait hal itu.

ASDP TIDAK TAHU

ASDP Indonesia Ferry disebut-sebut terafiliasi dengan calo yang mengondisikan truk di luar Pelabuhan Feri Kariangau. Dikonfirmasi terkait itu, Manajer Usaha PT ASDP Indonesia Ferry Balikpapan Rahim mengaku tak tahu. “Jujur saya baru tahu informasi mengenai pengondisian sopir truk itu dari Anda. Kami tidak memberikan instruksi kepada warga untuk melakukan pengondisian seperti itu,” katanya saat ditemui di kantornya, Senin (14/6).

Menurutnya, bila memang jam operasional itu waktunya feri milik ASDP, maka pihaknya wajib menerima kendaraan tersebut. Sekalipun kendaraan itu hasil yang dikumpulkan oleh calo di luar pelabuhan.

Kalau tidak tahu, lantas bagaimana mereka bisa terhubung dengan ASDP di pelabuhan? Rahim mengaku akan mencari tahu terlebih dahulu persoalan tersebut. Termasuk menanyakan ke petugas lapangan di pelabuhan.

Meski demikian, keberadaan truk yang dikumpulkan calo itu, kembali ke masing-masing sopir. Setiap sopir berhak menentukan pilihan mereka hendak naik feri apa. “Memilih transportasi terbaik. Ya kenapa enggak. Artinya memang kembali ke pengguna atau sopir. Mungkin pelayanan kami lebih baik. Jadi kami yang dipilih,” ucapnya.

Dari pantauan Kaltim Post, karyawan ASDP di Pelabuhan Feri Kariangau memotong tiket truk masuk dan memberikan cashback ke sopir. Artinya diduga kuat perusahaan BUMN pelayaran itu tahu permainan tersebut. “Wah sekali lagi saya tidak tahu. Saya harus cek dulu,” kilahnya.

Rahim menilai, yang wajar dari teknik marketing adalah memberikan reward kepada pengguna. Reward itu bisa berupa poin. Semakin sering menggunakan ASDP, maka poinnya bertambah. Poin itu yang kemudian bisa ditukar berupa diskon hingga menggunakan feri penyeberangan secara gratis. Justru, dia tidak setuju dengan sistem cashback. “Transaksi cashback dan segala bentuk premanisme harus dihapuskan,” ungkapnya.

ASDP, kata dia, telah menyosialisasikan pembayaran feri nontunai di Pelabuhan Feri Penajam. Bahkan telah melibatkan empat bank. Metode pembayarannya mirip masuk tol. “Selain untuk feri, kartunya pun bisa digunakan untuk transaksi pembayaran tol. Cara ini untuk menghindari uang tunai di pelabuhan. Sekaligus mencegah praktik-praktik curang,” katanya.

Selain persoalan itu, Rahim juga menilai, jumlah feri di lintas Balikpapan-PPU terlalu banyak. Jumlahnya tidak seimbang dengan angka kendaraan yang melintas. Adapun data dari BPTD Kaltim-Kaltara pada periode 1-10 Juni 2021, jumlah kendaraan yang melintas di Pelabuhan Feri Kariangau sebanyak 8.434 unit. Sedangkan jumlah penumpang sebanyak 1.779 orang.

Dari pantauan Kaltim Post, rata-rata feri milik ASDP yang kerap terisi penuh. Sementara feri milik perusahaan lain terlihat longgar. Salah seorang sumber menyebut, adanya pengondisian di luar pelabuhan diduga kuat punya dampak pada keterisian feri milik ASDP.

Kegiatan pengondisian kendaraan di luar pelabuhan itu sudah terlihat di depan mata. Kini, tinggal aparat memandang aktivitas itu. Apakah akan dianggap sebagai teknik marketing atau persaingan usaha yang tidak sehat. (rom/k15)