BERAWAL dari online shop kecil, kini Mako by Seris bersaing dengan brand nasional. Dikembangkan oleh Guntur Subrata bersama sang istri, Seristina sejak 2017. Merupakan pengusaha skincare yang berbasis di Samarinda. Akhir tahun lalu, pengikut di akun Shopee mereka hanya 30,7 ribu dan kini sudah 116 ribu.

“Sejak tahun lalu, kami sudah berpikir layaknya brand besar. Apa yang mereka lalui dan kerjakan, itu juga yang coba kami lakukan. Dulu mikir, kok ada ya yang mau sewa agensi model cuma untuk foto produk sampai Rp 50 juta. Dan sekarang kami merasakannya, apa yang mereka pakai, itu juga yang kami pakai,” beber Guntur.

Dijelaskan jika konsep amati, tiru dan modifikasi (ATM) sangat penting dalam dunia usaha. Termasuk yang dia lakukan. Dikisahkan jika salah seorang kawannya dari komunitas Tangan di Atas (TDA) Samarinda, memutuskan pindah ke Bandung.

“Alasannya karena alur distribusi dan waktu. Kalau di sana, distribusi kan enggak panjang, cepat juga. Jadi otomatis lebih hemat dan meringankan pekerjaan. Kalau kami di sini, kirim barang enggak mungkin lewat pesawat karena pasti mahal. Lewat kapal dan waktunya enggak sebentar,” jelasnya.

Produk kecantikan yang dia tawarkan yakni berupa masker wajah, sleeping mask (masker untuk tidur), krim wajah, toner dan serum. Dia menggunakan sistem maklon. Jasa yang digunakan untuk menghasilkan barang sesuai permintaan pesanan.

Sederhananya, barang diproduksi pabrik lain namun dengan brand sendiri. “Lokasinya ada di Jogja sama Tangerang,” ujar Guntur. Semuanya sudah memiliki izin dan tentu saja terdaftar di Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Guntur mengatakan jika saat memulai usaha, pasarnya justru banyak dari Jawa. Miliki reseller lebih dari 100 se-Indonesia. Oleh sebab itu, optimistis untuk bersaing dengan brand besar pun semakin besar.

Dia menyebut jika memanfaatkan apa yang ada, apa peluang yang bisa diambil. Sebab, jika bermain di lokal, hanya akan jalan di tempat. Usaha yang semakin meningkat, tentu diiringi dengan kualitas produk.

Sejak berdiri 2017 lalu, diakui jika 2020 lalu adalah momen dimana dia berhasil mendapatkan kepercayaan konsumen. Termasuk memiliki pikiran untuk berpikir setara brand nasional.

“Saya juga memperhatikan competitor, bagaimana mereka. Sejauh ini, penjualan terbesar lewat marketplace, itu andalan. Pengikut juga bertambah jauh sejak tahun lalu sampai sekarang,” beber pria kelahiran 1991 itu.

Kualitas dan kepercayaan konsumen adalah hal utama. Kemudian bagaimana memberi pelayanan. Seperti misal menghadapi komplain. Untuk beberapa kasus, mereka dengan telaten menghadapi misal barang pecah di jalan karena kesalahan ekspedisi. “Kami ganti baru dan tanggung ongkos kirim. Dengan begitu, kami punya image baik dan pelayanan bagus tentunya,” jelas Guntur lagi.

Promosi terus berjalan. Tentunya dengan strategi digital marketing. “Harus miliki mental brand besar. Namanya usaha harus naik level. Selain itu, mental pengusaha dan manajemen juga hal penting lainnya. Dan sejauh ini, kami promosi usaha mandiri. Terkait gerakan Bangga Buatan Indonesia sejak tahun lalu, jujur kurang terasa,” jelasnya.

Meski begitu, dengan adanya kebijakan pemerintah melarang seller atau penjual skincare luar negeri di marketplace Shopee, adalah langkah baik. Sehingga persaingan pun menjadi lebih terfokus antar pengusaha lokal di Indonesia. Hal itu sangat dirasakan Guntur selaku pengusaha produk kecantikan.

“Jadi sekarang tinggal bagaimana bersaing secara kualitas sesama pengusaha lokal dan nasional. Dan penjualan kami juga sudah ke pasar internasional, di antaranya Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina hingga Vietnam,” kata dia.

Mengembangkan kemampuan bisnis secara mandiri, memahami trik dan tips usaha autodidak, dijelaskan Guntur perlahan membuahkan hasil. Sehingga yang membuat usaha besar hingga kini, karena hasil usaha mandiri.

Setiap hari sedikitnya 200-800 paket dikirim. Jika hari besar seperti tanggal cantik dan momen hari belanja nasional, jumlah paket bisa menyentuh 1000-2000 setiap hari. Yang mulanya hanya 3 karyawan pada 2020 lalu, kini dia sudah mempekerjakan 14 orang. (rdm)