PROKAL.CO,

BALIKPAPAN-Ekonomi budaya Kaltim perlu mendapat perhatian khusus. Karena tidak dikelola secara optimal, membuat khazanah atau kekayaan budaya di Bumi Etam tidak mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Sehingga dikhawatirkan akan terus tergerus saat kegiatan pemindahan ibu kota negara (IKN).

Hal itu disampaikan Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas Subandi Sardjoko dalam webinar “Membangun IKN Baru untuk Indonesia Maju”, Sabtu (26/6). Dia mengatakan, berdasarkan survei dari BPS, Bappenas, dan Kemendikbud pada 2019, Kaltim memiliki nilai indeks pembangunan kebudayaan (IPK) sebesar 55,47, sedikit di bawah IPK nasional sebesar 55,91. Perolehan nilai tersebut menempatkan Kaltim pada peringkat ke-15 dari 34 provinsi.

Meski demikian, Kaltim memiliki dimensi ketahanan budaya dengan poin 77,44. Angka ini di atas rata-rata nasional, 73,55. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan kebudayaan masyarakat Kaltim dalam mempertahankan dan mengembangkan identitas, pengetahuan, dan praktik budaya pada kehidupan sosial cukup baik. Sementara itu, dimensi ekonomi budaya merupakan dimensi paling lemah di antara dimensi lainnya. Pada aspek ini, Kaltim mendapati skor 32,86. Di bawah rata-rata nasional 33,79.

Hal ini menunjukkan bahwa khazanah kebudayaan yang melimpah di Kaltim, belum dikelola secara optimal untuk mendukung pembangunan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. “Jogjakarta dan Bali yang paling tinggi. Jadi, Bali dan Jogjakarta itu mampu memanfaatkan khazanah budayanya itu untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Jadi ini yang kami harapkan, juga nanti apa penduduk masyarakat yang tinggal di sekitar IKN, bisa memanfaatkan kekayaan budaya yang dimilikinya untuk pembangunan ekonomi masyarakat,” harap dia.

Mengenai keberagaman suku bangsa dan akulturasi budaya, menurutnya ada tiga suku bangsa terbesar di Kaltim. Yaitu Jawa, Bugis, dan Banjar. Sementara suku asli, seperti Dayak, Paser, Kutai, Tidung, Bulungan, dan Berau, secara populasi lebih sedikit daripada suku pendatang. Hal tersebut dikarenakan Kaltim merupakan tujuan utama migran asal Jawa, Sulawesi, dan juga Kalsel. Di mana persebaran suku Jawa hampir di seluruh wilayah Kaltim. Sedangkan suku Bugis, banyak menempati wilayah pesisir dan perkotaan, dan suku Banjar banyak menempati wilayah perkotaan.

Seperti Samarinda, Balikpapan, Kukar, Paser, dan juga PPU. Sementara suku Dayak, pada umumnya menempati daerah pedalaman. Terutama Kubar dan Mahulu. Suku Kutai menempati Kukar, Kutim, dan Kubar. Suku Paser menempati Paser dan PPU. Dan suku Berau berada di Berau. Akulturasi budaya juga telah berlangsung lama di Kaltim. Melalui berbagai proses budaya, interaksi sosial, dan migrasi penduduk. Yang membentuk keberagaman suku bangsa dan pluralitas budaya. Proses akulturasi ini membangun local genius yang memampukan masyarakat Kaltim dalam merespons dan menerima budaya luar. Serta hidup berdampingan dengan suku bangsa lain.