PROKAL.CO,

SAMARINDA–Bertambah lagi jumlah kasus orang meninggal karena demam berdarah dengue (DBD) di Samarinda. Total sudah tiga orang meninggal. Namun, belum dianggap kejadian luar biasa (KLB), dan metode penanganan masih mengacu petunjuk teknis dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Samarinda dr Ismid Kusasih mengatakan, kasus penyebaran di Samarinda memang berpotensi lebih tinggi dari tahun lalu. Terlebih jika mengacu 2019, enam orang meninggal akibat penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes aegypti, dan di 2020 nol kasus meninggal. "Belum KLB, sementara pemantauan masih terus dilakukan, dan penanganan mengacu juknis Kemenkes," singkatnya, Senin (21/6).

Terkait kasus terbaru pasien DBD yang meninggal, Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Diskes Samarinda dr Budi Triyanto Hadi membenarkan pasien berusia 21 tahun meninggal akibat DBD, berdasarkan laporan dari RS Dirgahayu pada Minggu (20/6). Pasien tersebut tercatat sebagai warga Kelurahan Sidodamai, Kecamatan Samarinda Ilir, merupakan wilayah kewenangan Puskesmas Sidomulyo. "Sesuai prosedur melalui tim surveillance Diskes, sudah komunikasi langsung dengan surveillance DBD di puskesmas pengampu wilayah, dan segera dilakukan penyelidikan epidemiologi (PE) di sekitar wilayah tempat tinggal pasien yang meninggal," ucapnya.

Sebelumnya, dr Budi juga mengingat bahwa memasuki cuaca yang tidak menentu, warga diminta waspada terhadap penyebaran DBD. Terlebih pertumbuhan jentik bisa terjadi di tempat-tempat potensial, terutama penampungan air atau barang-barang tak terpakai di sekitar rumah. "Perilaku 3M plus adalah yang utama untuk pencegahan. Selain itu, diharapkan peran kader juru pemantauan jentik (jumantik) lebih aktif. Hingga edukasi ke rumah-rumah sehingga setiap rumah bisa memiliki satu kader jumantik," ujarnya.

Dia mengingatkan ketika ada anggota keluarga yang mengalami demam lebih dari dua hari, namun belum pulih meski sudah diberi obat penurun panas hingga kompres dengan air hangat, agar segera dibawa ke puskesmas atau klinik terdekat guna pemeriksaan lebih lanjut, karena bisa diperkirakan demam tersebut akibat infeksi virus. "Pada 26 puskesmas kami triase penerimaan pasien demam sudah menyesuaikan dengan kondisi pandemi Covid-19 dan DBD, sehingga akan dilakukan periksa menggunakan alat deteksi dini DBD, yakni NS1," tutupnya. (dns/dra/k8)