PROKAL.CO,

Potensi penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD) terus meningkat. Hingga Juni minggu ketiga, 427 orang dilaporkan terjangkit penyakit yang diakibatkan gigitan nyamuk Aedes aegypti itu. Dua orang di antaranya dinyatakan meninggal dunia. Padahal, pada 2020, nol kasus meninggal dari total kasus sekitar 600 pasien sepanjang tahun.

 

SAMARINDA–Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Diskes) Samarinda dr Budi Triyanto Hadi mengatakan, kondisi Samarinda saat ini cenderung terkendali meski kasus yang terjadi berpotensi meningkat dari tahun lalu.

Bahkan pasien meninggal juga sudah dua orang terjadi pada Juni. "Makanya upaya pencegahan dan pengendalian dilakukan, setiap puskesmas sudah melakukan upaya. Baik sosialisasi, menggiatkan para kader juru pemantauan jentik (jumantik)," ucapnya. Perilaku 3M Plus masih yang paling efektif untuk menekankan angka penyebaran DBD. Selain itu, fungsi kader jumantik penting, di mana tahun lalu sempat ada rencana pencanangan satu rumah satu kader jumantik.

Namun, akibat pandemi, program belum digaungkan. "Kami sudah minta kepada kader jumantik tiap kecamatan untuk mulai edukasi dan sosialisasi. Hal itu diharapkan efektif, karena pembasmian jentik merupakan upaya paling mudah dan murah dalam menekankan penyebaran nyamuk," ucapnya.

Dia mewanti-wanti kepada masyarakat agar mewaspadai jika ada anggota keluarga yang demam lebih dari dua hari, agar segera memeriksakan kondisi tubuh ke puskesmas, klinik atau rumah sakit untuk menentukan kondisi tubuh. Apalagi kini di 26 puskesmas sudah memiliki alat deteksi dini DBD, yakni NS1, sehingga jika pasien datang dengan keluhan panas lebih dari dua hari, langsung dilakukan tes. "Itu untuk memastikan bahwa pasien tersebut terdiagnosa DBD atau Covid-19," ujarnya.