PROKAL.CO,

SEVILLA– Ada 17 tembakan yang dilepaskan pada matchday pertama kontra Swedia (15/6). Namun, tak satu pun berbuah gol. Ini merupakan lampu kuning bagi Spanyol. Produktivitas, terutama lini depan mereka, layak disorot. Betapa tidak. Sebanyak 13 di antara 17 tembakan yang dilepaskan pada matchday pertama lalu berasal dari lini depan. Striker dan wide attacker.

Nah, entrenador Luis Enrique mendapat tantangan untuk mengakhiri produktivitas buruk kontra Swedia pada matchday kedua dini hari nanti saat melawan Polandia (siaran langsung RCTI/iNews/Mola TV/ON channel HD/Soccer channel pukul 02.00 WIB). Setidaknya dia ingin membuktikan bahwa barisan striker Spanyol masih memiliki taji untuk selalu, setidaknya, mencetak gol di tiga edisi Euro terakhir.

Kejayaan La Furia Roja –julukan Spanyol– ketika menjuarai Euro edisi 2008 dan 2012 didukung barisan striker tajam seperti David Villa, Fernando Torres, dan Dani Guiza. Bahkan, ketika Spanyol gagal di babak 16 besar edisi 2016, striker masih bisa mencetak empat gol. Ironisnya, tiga gol di antaranya dicetak Alvaro Morata.

Alvarito –julukan Morata– memang berada dalam tekanan saat ini. Bahkan, ada beberapa opsi strategi yang diterapkan Lucho –sapaan Enrique– untuk laga nanti. Itu semua menyangkut Morata. Salah satunya, mengenyahkannya ke bangku cadangan dan digantikan Gerard Moreno.

Ketika melawan Swedia, Morata yang tampil 66 menit memang payah dengan tanpa tembakan ke gawang. Sebaliknya, Gerard yang tampil 16 menit mampu mencatatkan dua tembakan tepat sasaran di antara tiga percobaan.

Psikis Morata diyakini belum pulih sepenuhnya pasca penampilan buruk melawan Swedia. Di sisi lain, produktivitasnya juga tertinggal jauh dari Gerard di level klub musim lalu. Saat Morata ”hanya” mencetak 20 gol bersama Juventus, Gerard melesakkan 32 gol bersama Villarreal CF.