PROKAL.CO,

PYONGYANG– Korea Utara (Korut) membuka peluang untuk kembali berhubungan dengan Amerika Serikat (AS). Kemarin (18/6) Pemimpin Tertinggi Korut Kim Jong-un menegaskan bahwa negaranya harus bersiap, baik untuk berdialog maupun berkonfrontasi dengan Negeri Paman Sam. Namun, terlebih dahulu Pyongyang akan menyelidiki setiap perubahan kebijakan di era Presiden AS Joe Biden.

”Terutama untuk sepenuhnya bersiap menghadapi konfrontasi guna melindungi martabat negara kita dan menjamin terciptanya lingkungan yang damai,” ujar Kim Jong-un seperti dikutip kantor berita KCNA.

Hong Min dari Korea Institute for National Unification mengungkapkan bahwa komentar Jong-un dalam pertemuan komite pusat itu menandakan bahwa dirinya tengah mengambil pendekatan wait and see. Bola panas kini ada di tangan AS. Apakah mau melanjutkan langkah mantan Presiden AS Donald Trump untuk berdialog ataukah memilih permusuhan.

Pernyataan Jong-un tersebut adalah reaksi pertama atas strategi pemerintahan Biden. Biden berjanji melakukan pendekatan yang praktis dan terukur. Salah satunya adalah lewat jalur diplomasi agar Korut menyerah atas program misil dan nuklirnya. Korut sudah melakukan uji coba bom atom enam kali sejak 2006. Mereka juga mengembangkan rudal balistik antarbenua (ICBM).

Namun, Biden tidak mau gegabah. Dia tidak mau berhadapan langsung dengan pemimpin 37 tahun tersebut tanpa rencana negosiasi yang konkret. Sebab, tiga kali pertemuan Trump dan Jong-un tidak menghasilkan apa pun. ”Saya tidak akan memberikan hal yang diinginkannya (Jong-un, Red), yaitu pengakuan internasional,” ujar Biden saat bertemu dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in bulan lalu di Washington seperti dikutip Agence France-Presse.

Direktur North Korean Studies di Sejong Institute Cheong Seong-chang mengungkapkan bahwa Korut saat ini berpeluang melunak. Jong-un mungkin akan menerima permintaan pengurangan senjata nuklirnya asalkan ada pengurangan sanksi. Itu tidak lepas dari posisi Korut saat ini karena gagal panen dan terancam mengalami kelaparan.