CATATAN PERJALANAN Jamiluddin Fadly

 

Berlibur dengan menjadikan pegunungan sebagai tujuan utama selalu menyenangkan. Sensasi yang identik ditemukan di tiap gunung membuat kita selalu ketagihan untuk “menaklukkan” mereka.

GUNUNG KERINCI atau Puncak Indrapura adalah gunung tertinggi di Sumatra, gunung berapi tertinggi di Indonesia, dan puncak tertinggi ke-2 setelah Gunung Cartenz di Papua. Gunung Kerinci terletak tepat di perbatasan antara Provinsi Sumatra Barat dan Jambi. Gunung ini juga menjadi batas wilayah etnis Minangkabau dan suku Kerinci yang dikelilingi hutan lebat Taman Nasional Kerinci Seblat. Di hutan lebat itu pula habitat harimau dan badak sumatra.

Puncak Gunung Kerinci berada pada ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut (mdpl). Di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, di sini pengunjung dapat melihat di kejauhan membentang pemandangan indah Kota Jambi, Padang, dan Bengkulu. Bahkan Samudra Hindia yang luas dapat terlihat dengan jelas. 

Pada 25 Mei 2021 saya memulai perjalanan dari Balikpapan menuju Jakarta untuk menemui rekan-rekan dari berbagai daerah. Dari ibu kota negara, kami memulai perjalanan menuju Provinsi Jambi. Dari sana, kami pun memulai perjalanan lewat jalur darat menggunakan bus yang kami sewa. Kami menempuh sekira 30 jam perjalanan dengan tujuan Desa Kersik Tuo, Kabupaten Kerinci.

Saat pandemi seperti saat ini, akses kunjungan sebagian gunung di Indonesia ditutup. Ada pula beberapa yang tetap buka, dengan catatan kuota pendaki dibatasi. Selain itu, harus membawa surat keterangan hasil rapid/antigen dari klinik atau rumah sakit setempat maupun daerah sendiri.

Saya memilih Gunung Kerinci karena ini adalah gunung aktif tertinggi di Indonesia, bahkan Asia. Dan, tidak banyak pendaki menginginkan untuk pendakian ke Gunung Kerinci karena jarak rutenya yang lumayan jauh, jalur yang sangat menguras tenaga, dan memerlukan biaya tak sedikit pula.

Semua dimulai pintu rimba gerbang jalur pendakian Kersik Tuo menuju pos 1-3 dan shelter 1-3 yang jaraknya berbeda-beda. Pendakian ini saya tempuh dengan tiga hari dua malam. Kami beruntung karena sepanjang perjalanan, cuaca sangat cerah. Sempat ada hujan dalam pendakian/camp, namun tidak banyak mengganggu rencana perjalanan.

Di dalam pendakian itu, saya dan rombongan menginap di shelter 1 dan keesokannya lanjut ke shelter 3 untuk istirahat. Dan, melanjutkan menuju puncak pada hari ketiga. Perjalanan ke puncak dimulai pada 03.30 waktu setempat. Dan, alhamdulillah kami semua sampai di Puncak Indrapura di ketinggian 3.805 mdpl atau banyak pendaki bilang Atap Sumatra.

Adapun penduduk di sana dengan pekerjaan sebagai petani dan perkebunan. Contohnya, banyaknya kebun teh, kopi, dan kentang.

Desa Kersik Tuo, Kecamatan Kayu Aro berada pada ketinggian 1.400 mdpl dengan penduduk yang terdiri dari para pekerja perkebunan keturunan Jawa, sehingga bahasa setempat adalah bahasa Jawa dan ada pula penduduk asli Kerinci dengan bahasa Kerinci/Jambi.

Perjalanan ke Gunung Kerinci sudah saya susun sejak lama. Namun, belum menemukan waktu yang tepat untuk mewujudkannya. Bahkan sempat ada rencana untuk lebih dulu menjejaki Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat. Namun, keputusan ke Gunung Kerinci setelah dapat rekan yang punya rencana serupa.

Banyak hal yang harus disiapkan untuk memulai perjalanan ini. Di antaranya, karena perjalanan berlangsung di tengah pandemi, proses administrasi seputar pencegahan penyebaran Covid-19 sudah lazim ditemui di bandara.

Penataan waktu yang jeli juga akan menentukan kenyamanan perjalanan. Saya anjurkan untuk memilih waktu ketika tidak sedang high season atau waktu liburan. Penyusunan itinerary juga akan berdampak besar agar waktu yang disiapkan bisa efektif. Hal penting lainnya adalah budget yang dihitung secara matang.

Terlepas dari semua itu, hal yang sangat menentukan dalam kesuksesan liburan dengan tujuan mendaki gunung adalah kondisi fisik yang prima. Mental yang tebal pula. Itu akan sangat membantu mengatasi tantangan saat mendaki dengan trek yang tidak rata maupun cuaca yang dingin.

Meski sudah menikmati perjalanan berlibur ke pegunungan sejak 2014, saya juga tertarik untuk mengunjungi destinasi wisata alam lainnya, seperti pantai maupun laut. Menikmati pantai di Kepulauan Karimunjawa tampaknya menarik untuk dimasukkan dalam whislist saya berikutnya. (ndy2/k16)

 * Traveler, Pehobi Hiking, @jamilvablojr