PROKAL.CO,

LONDON– Tiongkok tersinggung. Itu terjadi karena kelompok negara-negara G7 membuat program untuk menyaingi proyek jalur sutra baru mereka atau Belt and Road Initiative (BRI). Harapannya, program G7 yang diberi nama Build Back Better World (B3W) bisa memblokir dominasi Tiongkok.

Juru bicara Kedutaan Besar Tiongkok di London mengungkapkan bahwa mereka yakin setiap negara setara. Terlepas dari mereka adalah negara kecil atau besar, kuat atau lemah, kaya atau miskin. Urusan global seharusnya ditangani melalui pembicaraan dengan semua negara. ’’Hari-hari ketika keputusan global didikte oleh sekelompok kecil negara telah lama berlalu,’’ tegas juru bicara tersebut.

Tiongkok memang mulai bangkit lagi sebagai kekuatan global. Hal itu dianggap sebagai peristiwa geopolitik yang paling signifikan akhir-akhir ini. Karena itulah, negara-negara anggota G7 yang terdiri atas Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Jerman, Italia, Prancis, dan Jepang mencari cara untuk menekan kebangkitan ekonomi dan militer Tiongkok, yang melonjak terus selama 40 tahun terakhir.

BRI merupakan kebijakan luar negeri dan ekonomi pemerintah Tiongkok yang paling ambisius. Ia merupakan strategi pembangunan infrastruktur global yang dilakukan sejak 2013 guna memperkuat pengaruh ekonomi Tiongkok. BRI terdiri atas jalur sutra ekonomi darat dan maritim. Ia menghubungkan Asia, Afrika, Oseania, dan Eropa dengan berbagai infrastruktur yang dibangun.

Tiongkok berhasil membangun jalur kereta api terpanjang di dunia yang menghubungkan Tiongkok ke Eropa. Itu menjadi peluang bisnis bagi perusahaan-perusahaan di sepanjang jalur tersebut. Beijing bahkan sampai mendirikan lembaga keuangan multilateral baru, Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB), untuk mendukung BRI.

Program BRI sempat dikritik karena membebani beberapa negara dengan utang. Negara-negara Afrika adalah yang paling tercekik dengan utang jangka panjang yang diberikan Tiongkok. AS menyebut BRI sebagai diplomasi utang.