Berkomitmen untuk berhenti. Tema itu diambil sebagai bentuk kampanye kesehatan di Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2021. Menjadi pengingat jika tembakau masih menjadi ancaman kematian bagi penggunanya.

 

HARI Tanpa Tembakau Sedunia tahun ini konsentrasinya terletak pada upaya meningkatkan kesempatan seseorang yang mengatakan ingin berhenti bisa benar-benar berhenti merokok.

“Karena sejak 1988, jumlah kematian akibat rokok (tembakau) mencapai 2 juta jiwa seluruh dunia. Kini meningkat, kematian akibat tembakau hingga 8 juta jiwa setiap tahun,” ungkap dokter spesialis paru Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB) dr Subagyo, Jumat (28/5).

Itu peringatan bagi perokok tembakau. Pun bagi mereka yang ingin coba merokok. Dan bagi siapa saja yang punya kemampuan untuk membantu perokok aktif untuk bisa berhenti. Sebab, kata Subagyo, rokok tidak hanya berbahaya bagi si perokok, tetapi juga orang di sekitarnya. “Paparan asap dari perokok aktif yang dihirup perokok pasif itu kandungan TAR (total aerosol residue)-nya lebih banyak dalam satu waktu,” jelasnya.

TAR merupakan senyawa kimia bersifat karsinogenik yang terkumpul dari asap hasil pembakaran rokok. Kandungan TAR itulah yang disebut menjadi pemicu seseorang mengalami gangguan kesehatan dalam tubuh. “Ada 4 ribu lebih kandungan dalam TAR yang berpotensi memicu kanker dan sakit jantung,” sebutnya.

Selain TAR, ada pula nikotin. Senyawa kimia organik kelompok alkaloid yang terdiri dari karbon, hidrogen, nitrogen, dan oksigen. Zat itu secara alami bisa dihasilkan dari tumbuh-tumbuhan. “Nikotin membuat penggunanya merasakan sensasi relaks, tenang, dan nyaman. Yang lupa jadi ingat. Enak, yakin. Pokoknya oke-oke. Sayangnya nikotin membuat ketagihan,” ucapnya.

Itu karena nikotin setelah diserap oleh tubuh akan memberikan rangsangan ke otak untuk menghasilkan endorfin. Itu adalah hormon yang bisa mengurangi efek dari rasa sakit, memberi rasa tenang, dan nyaman. Selain itu, nikotin yang terserap oleh tubuh akan memicu produksi dopamin. Hormon itu bisa meningkatkan konsentrasi, semangat, dan rasa percaya diri. “Efek buruk rokok tembakau akan muncul setelah konsumsi berkepanjangan,” ungkapnya.

Meski banyak perokok aktif mengklaim tidak merasakan dampak buruk, sejumlah kasus membuktikan rokok menjadi “jembatan” seseorang terserang penyakit. Itu yang ditemukan Subagyo selama kariernya sebagai seorang dokter. “Memang agak sulit membuktikan dampak negatif rokok secara langsung. Namun, secara statistik, mereka yang terkena penyakit memiliki riwayat sebagai perokok aktif,” katanya.

Misal, seseorang yang sebelumnya tak memiliki diabetes ternyata terserang diabetes setelah menjadi perokok aktif. Namun, ada faktor lain, seperti riwayat penyakit anggota keluarga lain yang juga memiliki diabetes.

“Rokok ini ‘jembatannya’. Karena rokok, dia mudah terkena diabetes. Karena rokok, dia mudah terkena TBC. Karena rokok, dia mudah terkena bronchitis. Jadi, bukan gara-gara merokok, dia langsung sakit. Beda,” katanya.

Pada masa pandemi Covid-19 saat ini pun, disebut Subagyo, perokok aktif memiliki risiko terpapar virus corona lebih besar dibandingkan bukan perokok. Baik karena kondisi tubuh akibat pengaruh rokok tembakau maupun kebiasaan saat merokok. “Asap rokok ini ‘kan polusi. Jadi, daya tahan paru menjadi menurun,” ungkapnya.

Di sisi lain, ada namanya Angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2). Yakni enzim yang menempel pada permukaan luar (membran) sel-sel di beberapa organ, seperti paru-paru, arteri, jantung, ginjal, dan usus. Dalam prosesnya, asap rokok akan meningkatkan jumlah enzim itu. “Dari penelitian, perokok punya potensi terpapar 3-4 kali lipat terjangkit virus Covid-19,” ujar Subagyo.

Itu becermin dari kejadian epidemi SARS pada 2002-2003. Para peneliti telah menemukan bahwa virus SARS-CoV (penyebab SARS) bisa masuk ke sel inangnya dengan berikatan dengan ACE2 sebagai reseptornya.

“Orang merokok ini ‘kan enggak mungkin pakai masker. Pasti lepas. Terus dia enggak mungkin pegang terus, pasti ditaruh. Terus jari yang digunakan pasti akan bersentuhan dengan bibir,” bebernya.

Momen pandemi itu pula disebut Subagyo mampu menggerakkan motivasi perokok untuk berhenti. Terutama para penyintas Covid-19. Karena meski sudah pernah terpapar virus corona, faktanya sejumlah kasus penyintas kembali terinfeksi Covid-19. “Efek baiknya Covid-19 ini, ketika mereka menderita, termotivasi untuk berhenti merokok,” ucapnya.

Di sisi lain, Subagyo juga menyebut sejumlah metode yang bisa digunakan untuk berhenti merokok. Namanya upaya berhenti merokok (UGM). Yakni kombinasi berbagai upaya yang berujung orang berhenti merokok. Dari edukasi, mengonsumsi obat, psikososial, psikoterapi, hingga hipnoterapi. “Edukasi penting. Karena sejumlah kasus ternyata sebagian besar perokok tidak tahu bahaya merokok,” katanya.

Diungkapkannya, meski tingkat kematian yang berhubungan dengan rokok tembakau cukup tinggi, secara statistik, 20 persen perokok tidak memiliki masalah kesehatan. Kondisi itu kemudian membuat dokter harus mempersempit masalah kepada pasien yang hendak berhenti merokok.

“Setelah tahu bahaya merokok, apakah mereka punya niat untuk berhenti. Motivasinya setinggi apa? Lalu apakah mereka punya kemampuan untuk berhenti. Ada skor yang kami nilai apakah program ini berhasil atau tidak,” tuturnya.

Mencari metode berhenti merokok akan diputuskan berdasarkan analisis dokter. Metode untuk berhenti merokok ada berbagai cara. Yang paling ekstrem dalam UGM yang pernah dilakukan adalah dengan meminta perokok untuk mengisap rokok sebanyak mungkin dalam satu waktu. Hingga menimbulkan rasa benci dan tidak nyaman merokok. “Akhirnya dia jera. Namun, metode itu harus didampingi tenaga kesehatan. Karena pasien bisa muntah,” katanya.

DIKLAIM LEBIH SEHAT

Sejak kemunculannya di Indonesia pada 2012 lalu, rokok elektrik atau vape menjadi salah satu alternatif menghentikan kebiasaan merokok tembakau. Vape pun perlahan mengubah kebiasaan perokok konvensional.

Banyak perokok percaya, vape mampu menghilangkan ketergantungan mereka terhadap tembakau. Bahkan cenderung lebih menyehatkan. Sebab, dalam cairan vape tidak memiliki TAR, senyawa kimia yang terkumpul dari asap hasil pembakaran rokok.

Kaltim Post menemui salah satu store vape di Balikpapan untuk menggali lebih dalam perkembangan vape. Dan bagaimana perubahan kebiasaan merokok tembakau beralih ke vape. Kepada awak media, karyawan Asgard Vape di Balikpapan, Esa Karunia Uning yang juga seorang vaporizer (sebutan perokok elektrik) menyebut, dari tahun ke tahun vape semakin digemari. “Perkembangannya dari 2014 lalu sampai sekarang meningkat drastis,” ungkap Esa, Jumat (28/5).

Selain diklaim lebih sehat, vape dalam prosesnya banyak mengeluarkan produk dari peralatan hingga liquid (cairan vape) yang bervariasi. Bahkan, dari dua jenis liquid, yakni creamy dan menthol, ratusan rasa dijual ke pasaran. Hal itu yang menurut Esa membuat banyak orang yang bukan perokok akhirnya menjadi vaporizer. “Klaim lebih sehat karena bebas dari TAR yang berbahaya bagi tubuh,” katanya.

Esa mengaku sebelumnya perokok tembakau. Lima tahun lalu, lepas dari bangku SMP, dia menjadi perokok aktif. Namun, pada 2018, saat mengenal vape dirinya mulai mengurangi kebiasaan merokok. Dan sejak itu dirinya menyebut, tubuhnya terasa lebih sehat. “Dulu pas merokok tembakau, napas saya ngos-ngosan kalau main futsal. Sekarang enggak,” katanya.

Klaim vape lebih sehat dibandingkan rokok tembakau pun pernah dilakukan Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) pada 2019 lalu. Menyikapi kontroversi vape yang disebut lebih berbahaya, APVI memajang ratusan hasil rontgen sebagai bukti dari perubahan flek pada paru-paru vaporizer yang dulunya menggunakan rokok tembakau. “Saya pun melakukan rontgen setiap enam bulan sekali untuk mengetahui efek vape di paru-paru saya. Hasilnya semua baik-baik saja,” ungkap Esa.

Di sisi ekonomi, vape, ucap dia, lebih hemat. Sebelumnya, saat masih bergantung dengan rokok tembakau, Esa harus mengeluarkan hampir Rp 2 juta per bulan. Sehari dia bisa menghabiskan dua hingga tiga bungkus rokok. Namun, saat beralih ke vape, dia menyebut, hanya menghabiskan uang Rp 500 ribu per bulan. Untuk membeli liquid, cartridge, kawat, dan kapas. “Kalaupun mahal itu di awalnya. Kami keluarkan uang buat beli device. Harganya bervariasi. Dari ratusan hingga jutaan rupiah. Selebihnya lebih ringan,” katanya. (Peliput: M Ridhuan, Nofiyatul Chalimah/rom/k16)