PROKAL.CO,

HONGKONG– Hongkong termasuk beruntung. Di saat banyak negara kesulitan mendapatkan vaksin Covid-19, mereka malah berlebih. Hongkong memiliki lebih dari cukup vaksin untuk semua penduduknya yang berjumlah 7,5 juta jiwa. Tapi, di saat bersamaan, hanya sedikit yang mau divaksin.

Imbasnya, jutaan dosis vaksin Pfizer-BioNTech yang dikirim gelombang pertama terancam dibuang begitu saja. Sebab, masa kedaluwarsanya tinggal tiga bulan lagi. Sementara jumlah penduduk yang mendaftarkan diri untuk divaksin tidak mencukupi alias kurang. Di sisi lain, Pfizer-BioNTech termasuk salah satu vaksin Covid-19 yang harganya paling mahal.

Banyak faktor yang membuat penduduk enggan daftar untuk vaksinasi. Salah satunya adalah ketidakpercayaan kepada pemerintah. Selain itu karena ada yang percaya dengan informasi salah di berbagai media sosial. Hongkong juga termasuk wilayah dengan angka penularan sangat rendah sehingga penduduk merasa tidak perlu tergesa-gesa untuk vaksinasi. Semua faktor itu membuat target vaksinasi pemerintah serasa jalan di tempat.

”Semua vaksin punya masa kedaluwarsa. Ia tidak bisa digunakan setelah tanggal kedaluwarsanya terlewati,” jelas mantan pengawas Pusat Perlindungan Kesehatan Thomas Tsang saat diwawancarai stasiun radio RTHK. Vaksin Pfizer-BioNTech memiliki masa pakai hanya enam bulan.

Thomas menegaskan bahwa situasi saat ini salah. Hongkong memiliki tumpukan dosis vaksin yang tidak terpakai, sementara di pihak lain banyak negara yang berebut untuk mendapatkannya. Pfizer-BioNTech mungkin tidak akan mengirimkan dosis lainnya hingga tahun depan. Jadi, vaksin yang dimiliki Hongkong saat ini adalah apa yang tersedia hingga akhir tahun.

Pemerintah Hongkong membeli masing-masing 7,5 juta dosis vaksin Pfizer-BioNTech dan Sinovac. Mereka juga memesan 7,5 juta dosis AstraZeneca, tapi membatalkan kesepakatan awal tahun ini. Total 3.263.000 dosis vaksin Pfizer-BioNTech sudah dikirimkan ke Hongkong selama beberapa kali. Baru 1.231.600 yang terpakai. Sekitar satu juta dosis sempat mengalami masalah pengemasan. Belum diketahui apakah sudah diganti atau belum.