BALIKPAPAN-Jembatan Pulau Balang disebut sebagai jembatan tipe cable stayed terpanjang keempat di dunia. Sedangkan dari segi bentangnya, jembatan yang menghubungkan Balikpapan dengan Penajam Paser Utara (PPU), merupakan jembatan terpanjang kedelapan di dunia. Hal itu disampaikan Team Leader Balang Bridge Design FX Supartono dalam webinar Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI), akhir April lalu.

Pada jembatan tipe cable stayed, beban jalan ditahan pada kabel yang melekat di dua menara. CEO PT Tridi Membran Utama ini menuturkan, jembatan tipe cable stayed atau jembatan gantung dari beton umumnya memiliki panjang terbatas. Jika dibangun lebih dari 450 meter saja, maka berdampak pada bentang utama yang begitu berat. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan dibangun dengan bentang lebih dari 450 meter. Seperti Skarnsundet Bridge di Norwegia dan Atlantic Bridge di Panama. Yang merupakan jembatan terpanjang pertama dan kedua di dunia. Dengan panjang bentang utama masing-masing 530 meter.

Tentu jika ingin membuat rekor dunia, bisa saja. Karena dari segi ekonomisnya, tidak terlalu menjadi pertimbangan nomor satu. Tapi pada umumnya, lebih dari 450 meter, sudah berat menggunakan beton untuk jembatan cable stayed,” katanya. Supartono melanjutkan, desain konsep Jembatan Pulau Balang yang dibangun di atas Teluk Balikpapan, memiliki panjang bentang 402 meter, dengan total panjang 804 meter. Selain itu, lebar deknya 22,4 meter untuk 4 lajur kendaraan. Kemudian ruang bebas navigasinya 27 meter di atas high water level (HWL) atau muka air tinggi di perairan tersebut.

Tinggi pilar Jembatan Pulau Balang keseluruhan 108,75 meter dan 88,1 meter dari atas balok tepi (top deck). Adapun lajurnya, 2x2 lajur dengan lebar 3,5 meter. Sementara inspection lane-nya atau lajur inspeksinya 2x1 meter. Kalau suatu hari, ini mau dijadikan trotoar mungkin masih bisa. Tapi, saya tidak menyarankan ada trotoar di jembatan di tengah laut seperti ini,” imbuhnya. Supartono lalu menceritakan awal mula dia ambil bagian dalam pembangunan Jembatan Pulau Balang. Pada 2004, dia pertama kali diminta Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Perumahan Rakyat (DPUPR-Pera) Kaltim, untuk menyusun basic design atau desain awal Jembatan Pulau Balang.

Tahun itu, dia mengusulkan desain awal Jembatan Pulau Balang adalah jembatan gantung berbentang panjang. Dengan panjang sekira 700 meter untuk bagian bentang panjang. Sedangkan pada bentang pendek diusulkan jembatan pelengkung multi plate span. Dengan panjang total sekira 480 meter. Kemudian yang disetujui pada awalnya adalah bentang pendek dulu. Karena bentang panjang membutuhkan biaya yang cukup besar,” kenangnya. Walaupun belum disepakati besaran anggarannya, tetapi bentang pendeknya sudah dilakukan penyusun detail engineering design (DED).

Namun, Supartono tetap menggunakan multi plat span melengkung. Sedangkan bentang panjangnnya, pada 2010 dilakukan DED oleh Kerja Sama Operasi (KSO) Anugrah-Hi-Way Indotek-Hanata. Yang juga mengadopsi jembatan gantung dengan bentang sekira 700 meter. Seperti yang dibuat dalam basic design,” ujar dia. Dalam perjalanannya, pada 2013, DPUPR-Pera Kaltim menanyakan kemungkinan tipe Jembatan Pulau Balang diganti dengan cable stayed. Dia pun menyebut ada kemungkinan tersebut. Sehingga dibuatlah konsep desainnya. Setelah jadi, barulah dibuat perbandingan.

Ternyata harga pembangunannya, relatif jauh lebih murah. Dan akhirnya jembatan cable stayed dipilih sebagai desain Jembatan Pulau Balang berbentang panjang. Dan dibangun sampai selesai pada 2021. Sedangkan bentang pendeknya selesai pada 2015,” katanya. Dia menyebut, alasan utama pada akhirnya memilih desain cable stayed, padahal sudah dibuat DED jembatan gantung adalah pembiayaan. Ternyata setelah dihitung, membuat jembatan gantung sepanjang 700 meter biayanya cukup besar. Saat itu, berdasarkan rencana anggaran biaya (RAB) 2010 yang dibuat dalam DED, nilainya Rp 3,05 triliun. Sedangkan redesign berupa jembatan cable stayed ditambah jembatan pendekat berupa I girder, ternyata biayanya sesuai kontrak KSO PT Hutama Karya, PT Adhi Karya, dan PT Bangun Cipta Kontraktor adalah Rp 1,39 triliun.

Jadi kurang separuhnya. Itu kontrak pada tahun 2015, atau RAB yang dibuat 2014. Jadi ini alasannya yang kuat untuk memilih jembatan cable stayed sebagai bentang panjang di Pulau Balang,” ungkapnya. Dhono Nugroho, Project Manager KSO PT Hutama Karya-PT Adhi Karya- PT Bangun Cipta Kontraktor menambahkan, secara umum ada beberapa kontrak yang dikerjakan pada pembangunan Jembatan Pulau Balang. Yakni jembatan utama dengan jenis bangunan atas cable stayed. Kemudian jenis bangunan bawah berupa bored pile. Berdiameter 1,5 meter dan 2 meter. Dengan panjang jembatan 804 meter dengan lebar 22,4 meter. Terbagi atas 4 lajur. Dan tinggi pilar 117,5 meter.

Sementara jembatan pendekat, dibangun dengan jenis prestresed girder (I-girder). Jenis bangunan bawah adalah bored pile berdiameter 1,5 meter. Dengan lebar jembatan 22,4 meter. Terdiri dari 4 lajur. Selain itu, ada jalan akses di wilayah PPU sepanjang 1.807 meter dengan struktur rigid pavement. Dan paket kegiatan lainnya adalah Gedung Pusat Informasi Jembatan. Yang terdiri dari gedung museum, area parkir, dan jalan akses. Jadi memang kontrak Rp 1,39 triliun itu, tidak hanya jembatan utama. Tapi, ada beberapa paket pekerjaan atau pekerjaan di dalam kontrak ini,” pungkasnya. (kip/riz/k15)