SEJAK awal, berlarut-larutnya penyelesaian Seksi I dan V Tol Balikpapan–Samarinda (Balsam) disebabkan lambatnya progres pembebasan lahan. Itu menjadi faktor utama di luar kondisi tanah yang labil.

Pengamat konstruksi Kaltim Slamet Suhariadi menjelaskan, proses serah-terima lahan yang akan dikerjakan menjadi persoalan penting pada awal proses konstruksi. Karena diketahui sejak awal, banyaknya masalah di pembebasan lahan tol membuat kontraktor harus menunda pekerjaan mereka.

“Ini pelajaran penting. Karena semuanya punya jadwal. Dan itu harus bisa dilaksanakan sesuai target,” ungkap Slamet.

Kontraktor pelaksana tak mungkin melakukan pekerjaan jika lahan yang akan ditangani belum klir. Dan jika sudah klir, diperlukan waktu untuk bisa mempersiapkan lahan. Apalagi tanah di Tol Balsam punya berbagai persoalan. Tidak hanya status, juga struktur. “Beberapa masuk di hutan lindung. Lalu berbeda di Jawa, tanah di Kaltim, khususnya di tol itu kondisinya labil,” ucapnya.

Perlu treatment untuk membangun di atas tanah yang labil. Itu sebabnya, setelah lahan klir, kontraktor tak bisa langsung membangun. Karena kondisi tanah bisa berubah seiring berjalannya waktu. Tidak mungkin kontraktor akan menggunakan perencanaan tahun-tahun sebelumnya. Sehingga perlu penyesuaian desain.

“Akibat terkatung-katung bertahun-tahun, ada kemungkinan perubahan di struktur tanah. Tidak mungkin menggunakan perencanaan sebelumnya,” jelas dia.

Tol Balsam disebut Slamet memang unik. Sejak awal, mempertimbangkan keanekaragaman hayati, kondisi alam dan masyarakat dalam pembangunannya. Membuat konstruksi tol harus menyesuaikan posisi tanah. Itu pula yang membuat kondisi Jalan Tol Balsam disebut tidak senyaman tol-tol di Pulau Jawa. “Tapi bukan jadi alasan bagi kontraktor pelaksana untuk membuatnya tidak senyaman seperti di Jawa,” katanya.

Dia merasakan sendiri, bagaimana kondisi Tol Balsam yang banyak memiliki kelemahan dalam pengalaman berkendara di jalan tol. Seperti yang dirasakan awak media ini, beberapa ruas jalan tidak rata. Cenderung bergelombang. Bahkan seperti ada penurunan badan jalan.

“Yang mengerjakan kontraktor BUMN (badan usaha milik negara). Harusnya sekelas mereka bisa membangun yang lebih baik lah jika dibandingkan kontraktor lokal,” tuturnya.

Selama ini kontraktor lokal berkiblat ke pusat dalam hal ini kontraktor BUMN. Lewat pembangunan jalan tol ini, artinya ada transfer teknologi hingga manajemen pekerjaan. Karena itu, sangat disayangkannya jika hasil pekerjaan kontraktor BUMN di Kaltim tak sebaik di Jawa.

“Harusnya jadi contoh. Kontraktor lokal ini tidak diberi akses, terus yang mengerjakan BUMN. Hasilnya ternyata seperti ini juga. Kalau enggak bisa kerja di daerah buat apa, malu-maluin saja,” sindirnya.

Bagi Slamet, dengan ketidaknyamanan berkendara di Tol Balsam artinya kontraktor sekelas BUMN pun dianggap menganak-tirikan daerah. Karena dari pengalamannya berkendara di tol di Pulau Jawa, kondisinya sangat nyaman tanpa ada gangguan dari sisi permukaan jalan. “Bagi saya berkendara di tol (Balsam) itu, rasanya tidak nyaman. Tidak senyaman di Jawa,” ucapnya. (rom/k8)