DARI arti katanya, hampers punya makna berupa barang yang dimuat dalam wadah berupa keranjang. Umumnya memberi kesan personal, intim, dan dekat. Namun saat ini hampers lebih kepada bingkisan kecil berupa produk tertentu.

Sedangkan parsel, merujuk pada bingkisan umumnya makanan atau kini barang pecah belah dalam bentuk lebih besar. Meski begitu, apapun bentuk penamaannya, selama pandemi khususnya jelang Lebaran punya makna untuk mempererat silaturahmi.

Termasuk usaha dessert yang dilakoni Angelia Catherine Padlan. Membangun usaha Dotco Company sejak 2012, dia baru antusias melakoni usaha hampers saat 2020. Ketika membuka pemesanan, diakui kewalahan karena membeludak.

“Khususnya hari Ibu, termasuk masuk Natal dan Chinese New Year itu juga luar biasa. Nah untuk Lebaran tahun ini kuakui agak telat aku buka pemesanan. Selain itu, banyak pengusaha yang sekarang menerapkan sistem hampers untuk jualannya,” ujar Catherine.

Namun, penggemar aneka dessert buatannya memang sudah ada. Termasuk tahun ini, dia mencoba hampers nastar. Dengan packaging atau kemasan premium. Sehingga tidak sekadar kue kering.

Menurut Catherine, dalam hampers yang utama adalah penampilan. Bagaimana bingkisan tersebut sampai kepada penerima dan memberi kesan baik. Apalagi tren hampers disebutnya sebagai pengganti silaturahmi atau sarana komunikasi karena keterbatasan pandemi.

Untuk tahun ini, dia menyediakan tiga jenis pilihan hampers. Selain konsisten dengan whole cake dan molten cake, ada pula nastar premium. Dengan range harga Rp 110–300 ribu.

Selain pemesanan sebelum Lebaran, ada pula yang setelahnya. Belajar dari pengalaman tahun lalu, Catherine menyebut, ada beberapa kondisi yang mengakibatkan banyaknya pemesanan hampers. Salah satunya yakni, ketika seseorang menerima bingkisan, ada perasaan tak enak jika tak membalas.

“Jadi misal dikirim hampers pas Lebaran, nah akhirnya cari habis Lebaran untuk balas budi. Ini termasuk pengalamanku. Jadi memang ada beberapa yang seperti itu. Dan sekarang isian hampers beragam, bahkan bakso sampai singkong goreng jika dikemas dengan menarik bisa jadi hampers,” kata dia.

Selain Catherine, pengusaha kuliner yang tak ketinggalan membuat hampers adalah Riswahyuni. Pemilik usaha Cake Salak Kilo Balikpapan ini konsisten membuat hampers sejak pandemi. “Di masa pandemi, memang setiap usaha berdampak. Tidak terkecuali usaha saya. Ketika Lebaran tahun lalu alhamdulillah antusias hampers meningkat. Isiannya macam-macam, utamanya adalah produk dari usaha saya,” ungkapnya.

Usahanya yang bergerak untuk pelayanan oleh-oleh, membuat Yuni harus tetap inovasi. Dia pun menawarkan berbagai hampers dengan macam-macam isian. Mulanya berawal dari pesanan untuk membesuk ke rumah sakit.

“Tapi karena pandemi kan enggak boleh. Pesan lah di saya untuk beberapa kue dengan dan dikirim ke rumah sakit, dan masyaallah ternyata antusiasnya. Setelah itu mulai ada beberapa yang order. Jadi mulailah saya bikin ada juga hampers yang gurih, ada nasi liwet sampai ayam bakar,” ujarnya.

Ditambah lagi, protokol kesehatan dan imbauan yang diterapkan di Balikpapan cukup ketat. Sehingga beberapa orang memilih untuk tetap saling bersilaturahmi dengan mengirim bingkisan. Meski bukan pada momen tertentu.

Hari-hari biasa, ada saja yang memesan untuk sekadar sebagai ucapan selamat. Ditambah momentum, seperti perayaan Natal hingga Tahun Baru Cina. Tak ketinggalan, Lebaran kali ini Yuni juga membuat hampers Lebaran. Dikemas dengan tampilan mewah dan berkesan, sehingga tetap berkenan di hati pemesan pun penerima. Tampilan menarik dengan jaminan rasa, membuatnya tak begitu sulit mencari pembeli. (rdm/ndu/k8)