Jelang pemindahan ibu kota negara (IKN), dunia pendidikan harus bersiap. Ditambah pemerintah mencanangkan pembangunan perguruan tinggi berstandar internasional di Kaltim. Namun, bagi akademisi sebaiknya pemerintah fokus meningkatkan mutu dari kampus yang sudah ada.

 

ULIL MUA'WANNAH, Balikpapan

 

PERIHAL itu tergambar dalam Talk Show IKN bertema “Perguruan Tinggi Menatap IKN” yang digelar Kaltim Post secara daring kemarin (6/5). Acara yang dipandu wartawan senior Ajid Kurniawan itu menghadirkan narasumber Rektor Universitas Balikpapan (Uniba) Isradi Zainal.

Isradi menuturkan, perguruan tinggi di Kaltim sudah mumpuni. Keunggulan, keunikan, dan karakter baginya adalah yang membuat sebuah universitas mampu bertahan. Dibarengi dengan pengembangan inovasi, seperti yang dilakukan Uniba dengan menambah program studi (prodi) baru. Di antaranya S-1 Teknik Lingkungan, S-1 Arsitektur, S-2 Manajemen, dan S-2 K3/Teknik Keselamatan & Risiko.

Mengingat ke depan akan banyak pekerjaan baru yang memerlukan skill dari prodi tersebut. Sehingga, sumber daya manusia (SDM) harus dipersiapkan dari sekarang. Terkait IKN, pihaknya telah mempersiapkan rencana strategis (renstra) hingga 25 tahun ke depan.

“Banyak universitas diprediksi akan hilang karena ke depan ada pekerjaan-pekerjaan baru. Renstra Uniba 25 tahun itu mencakup kurikulum, pengembangan kampus, fakultas, dosen hingga membuka peluang kerja sama dengan universitas lain,” ujar ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Kaltim itu.

Selain keperluan infrastruktur dan transportasi, IKN baru di Kaltim sangat memerlukan SDM yang matang. Itu menjadi peluang sekaligus tantangan baginya. Bagaimana menyiapkan SDM agar sesuai keperluan dan kondisi pada masa depan. Di sisi lain, memang tidak ada larangan bagi perguruan tinggi yang ingin melakukan ekspansi ke Kaltim.

Komunikasi dan interaksi sudah dilakukan dengan berbagai pihak, tidak hanya perguruan tinggi. Uniba juga membuka peluang selebar-lebarnya bagi pihak industri bekerja sama dengan kampusnya. Agar lahan pekerjaan segera terisi dan menyerap SDM lokal.

Sekjen Forum Dekan Teknik Indonesia itu mendukung pemerintah dalam menjadikan kampus merdeka dan merdeka belajar. Supaya tidak terbelenggu dalam aturan pendidikan yang kaku. Bahkan memberi kesempatan kepada mahasiswa bisa berkuliah di tempat lain.

Pada era Industri 4.0, perkembangan digital menurutnya membantu dosen maupun sistem pembelajaran pada masa pandemi. Sehingga, pembelajaran bisa dilakukan di mana pun. Tidak dipersulit. Uniba pun mencoba menerapkan sistem informasi dalam setiap aktivitas kampus. Untuk mempermudah mahasiswa menerima informasi.

Mewujudkan world class university, Isradi berujar, Uniba mempunyai keunggulan dan keunikan yang tidak dimiliki universitas lain. Sehingga, ia tidak merasa terancam dengan ekspansi universitas dari luar. Dirinya memilih kolaborasi dengan perguruan tinggi dan pihak industri daripada persaingan. Serta mengedepankan output yang dihasilkan. 

“Jika boleh saya katakan, K3 (Fakultas Vokasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja) Uniba terbaik di Asia Tenggara. SDM di Kaltim sudah cukup baik, tapi sayang kurang diberi kesempatan. Jadi, saya minta kepada pemerintah ataupun DPRD, bila ingin melakukan analis jangan memanggil ahli dari luar, di Kaltim sudah banyak,” pintanya. 

Menjaga mutu, Uniba memiliki dosen-dosen dengan gelar doktor hampir di seluruh fakultas/prodi. Bahkan mereka disekolahkan ke luar negeri seperti Australia maupun Belanda. Kini, pihaknya juga menjajaki adanya pertukaran mahasiswa dari luar negeri. Tinggal menentukan skema pembiayaan.

“Universitas negeri ataupun swasta memberi kebebasan dalam mengakses ilmu dan berkompetisi dengan yang lain. Dan kami tidak pernah takut ataupun minder dengan perguruan tinggi lainnya. Semoga IKN bisa jauh dari banjir, macet, bencana, dan polusi. Tidak perlu tergesa-gesa, agar dipersiapkan dengan sedetail mungkin supaya tidak menimbulkan masalah baru nantinya,” pungkasnya. (rom/k15)