BALIKPAPAN-Rencana pembangunan jalur kereta api di Kaltim kembali dikaji Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Kali ini, kepentingannya sebagai bagian dari perencanaan pemindahan ibu kota negara (IKN) di Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara (PPU) hingga Kecamatan Muara Jawa, Kukar.

Kajian ini dikerjakan melalui Subdit Pengembangan Jaringan dan Lalu Lintas Kereta Api Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kemenhub. Ada dua kajian perencanaan jalur yang mencuat ke publik dalam beberapa hari terakhir. Yakni, jalur kereta api Bandara SAMS Sepinggan menuju IKN dan jalur kereta api perkotaan Balikpapan menuju IKN. Telaah ini dikerjakan konsultan PT Atlas Internasional Indah.

Kegiatan ini juga melibatkan partisipasi masyarakat Balikpapan dan Kaltim dengan mengisi survei stated preference atau teknik kuesioner. Ada dua kategori. Yakni masyarakat yang belum pernah naik kereta api dan masyarakat yang pernah naik kereta api. Jangka waktu pengisian survei hingga 14 Mei 2021. Saat dikonfirmasi mengenai adanya rencana penyusunan kajian perencanaan jalur kereta api tersebut, anggota Komisi V DPR Irwan yang menjadi mitra Kementerian Perhubungan membenarkannya.

Wakil Kaltim di Senayan ini mengungkapkan, pada tahun ini telah dilakukan review rencana pembangunan dua jalur kereta api di Kaltim. “Itu kegiatan yang ditunda sejak tahun 2020. Ada dua kegiatan itu diintegrasikan pada tahun ini. Di samping trase kereta api Balikpapan-Samarinda, juga kajian kereta api Bandara Sepinggan ke IKN,” katanya kepada Kaltim Post, (4/5).

Wasekjen DPP Partai Demokrat ini mengonfirmasi langsung mengenai kebenaran informasi mengenai integrasi kajian perencanaan dua kegiatan tersebut ke Dirjen Perkeretaapian Kemenhub.

Selain itu, dia juga mengonfirmasi ke Korlantas Polri. “Jadi, kemarin memang saya usulkan untuk di-review kembali. Karena mengalami refocusing. Rupanya di kegiatan tahun ini digabung. Kegiatan trase kereta api Balikpapan-Samarinda dan kajian kereta api Bandara Sepinggan ke IKN. Terkonfirmasi dengan Pak Dirjen (Dirjen Perkeretaapian Kemenhub) anggarannya sekitar Rp 1 miliaran,” terang pria asal Sangkulirang, Kutim ini.

Politikus yang juga menjabat sebagai anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR ini menyebut, kegiatan yang sudah terkontrak pada tahun lalu itu, diharapkan bisa diselesaikan sebelum akhir 2021.

“Dan survei itu benar. Kami harapkan partisipasi masyarakat yang jujur dan faktual. Dan diselipkan harapan agar IKN bisa terwujud. Ditandai dengan dimasukkan draf RUU IKN dari Pak Jokowi ke DPR,” tutup Irwan.

Mengutip laman https://lpse.dephub.go.id/, kegiatan yang berkaitan dengan penyusunan kajian perencanaan jalur kereta api di Kaltim hanya ada satu kegiatan. Yakni paket kegiatan dengan nama “Studi Kelayakan Penyelenggaraan Perkeretaapian dalam Rangka Mendukung Ibu Kota Negara Baru (Jk.07-20) Lelang Tidak Mengikat”. Kegiatan yang bersumber dari APBN 2020 ini, dimenangkan PT Atlas International Indah yang beralamat di Bandung, Jawa Barat senilai Rp 2,861 miliar. Penandatanganan kontrak pada 15-17 April 2020.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kaltim HM Aswin sempat menerangkan, sesuai dengan Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (Ripnas), konsep pengembangan jalur kereta api di Pulau Kalimantan sebagai kereta api logistik atau barang trans Kalimantan. Namun, dengan adanya rencana pemindahan IKN ke Kaltim, maka berpotensi dikembangkan menjadi kereta api penumpang.

Lanjut dia, Kemenhub telah menyusun studi kelayakan dan trase jalur kereta api Kaltim sejak 2016. “Jadi sudah rencana pembangunan Kaltim dan Kalimantan secara keseluruhan. Jaringan kereta api Kaltim sampai Kalbar. Namun, jalur kereta apinya belum dibuat, tapi perencanaannya sudah selesai,” katanya dalam rapat virtual pekan lalu.

Pada tahapan pembangunan jaringan jalur kereta api di Kaltim, sesuai Ripnas Perkeretaapian yang disusun Kemenhub, pembangunan awal akan dilaksanakan pada 2020 hingga 2023. Dengan rencana jalur Balikpapan-Tanah Grogot (Paser)-Tanjung (Tabalong, Kalsel). Bersamaan dengan rencana pembangunan jalur kereta api Balikpapan-Samarinda. Kedua kegiatan tersebut akan dikerjakan hingga tahap keempat pada 2025-2030. Untuk rute Samarinda-Bontang-Sangatta (Kutim) telah disusun studi kelayakan atau feasibility study (FS) pada 2016 dan penyusunan trase pada 2017.

Lalu rute Balikpapan-Samarinda telah dilaksanakan FS dan survei, investigasi, dan desain (SID) pada 2018. Sementara rute Tanjung-Tanah Grogot-Balikpapan telah dilaksanakan penyusunan FS dan trase pada 2015. Kemudian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) pada 2016 dan detail engineering design (DED) di tahun 2016. “Dalam Ripnas, Balikpapan-Samarinda yang lebih dulu diutamakan. Cuma sampai sekarang belum dilaksanakan. Mudah-mudahan bisa segera jalan,” kata Aswin. (kip/riz/k15)