BALIKPAPAN-Populasi penduduk Provinsi Kaltim diproyeksi tumbuh signifikan ketika ibu kota negara (IKN) baru mulai beroperasi. Efeknya, tak hanya tingginya kebutuhan pangan dan sumber daya air dalam beberapa tahun ke depan, tetapi juga keperluan perguruan tinggi untuk menampung mahasiswa. Potensi ini membuka peluang bagi perguruan tinggi yang ada di Pulau Jawa untuk ekspansi membuka cabang di IKN baru.

Berdasarkan perkiraan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), pada 2025 populasi penduduk Kaltim sebanyak 5-7 juta. Selanjutnya, akan terus mengalami penambahan menjadi 10-11 juta pada 2045. Sementara di tiga kota, yakni Balikpapan, Samarinda, dan IKN baru di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara serta Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, jumlah penduduknya diproyeksikan sebanyak 2,6-3,1 juta pada 2025. Lalu meningkat menjadi 4,5-5 juta pada 2045.

Berkaca pada pertumbuhan penduduk tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengatakan, akan ada universitas-universitas lain yang akan datang dan membuka cabang di IKN baru nanti. Namun, dia tidak merinci, kampus unggulan yang selama ini berbasis di Pulau Jawa dan akan ekspansi ke Kaltim nanti. “Saya rasa pasti. Karena juga enggak cukup, dan bakal ada banyak sekali orang yang pindah ke sini (Kaltim),” katanya saat berkunjung ke Penajam, pekan lalu.

Dengan begitu, mantan CEO Gojek Indonesia ini menilai, akan terjadi kolaborasi antara universitas lokal dengan universitas yang mungkin akan datang dari luar Kaltim. “Seperti yang pak presiden pernah umumkan kemarin, (IKN baru) harus menjadi hub (pusat). Bukan hanya teknologi tapi juga pendidikan. Itu pasti akan menjadikan ekosistem yang jauh lebih kaya, ekosistem akademi dan ekosistem DUDI (dunia usaha dunia industri) yang lebih dinamis dan lebih inovatif. Kombinasi yang paling baik,” katanya.

Pria kelahiran Singapura, 4 Juli 1984 ini melanjutkan, di Kaltim sudah ada beberapa kampus yang sebenarnya bisa menjadi pendukung awal. Seperti Institut Teknologi Kalimantan (ITK) di Balikpapan dan Universitas Mulawarman (Unmul) di Samarinda. Menurutnya, dua kampus itu membawa harapan yang sangat besar untuk semua perguruan tinggi negeri dan swasta di Kaltim. Agar bisa mentransformasikan diri dan bergabung dalam program program penunjang IKN baru.

“Sebagai bagian dari Kampus Merdeka. Mereka mengerjakan program project-project Kampus Merdeka di lokasi IKN. Dan itu yang akan meningkatkan kualitas dan mutu lulusannya,” harap Nadiem. Sementara itu, Wakil Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian berpendapat sebaliknya. Wakil Kaltim di Senayan ini menilai, semua perguruan tinggi negeri maupun swasta tidak harus pindah ke calon IKN baru. Politikus Partai Golkar ini justru mengusulkan agar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang juga mengurusi perguruan tinggi, untuk meningkatkan grade atau mutu kampus atau universitas yang ada di Kaltim.

“Kami lebih support hal seperti itu, jadi lebih bagus lagi. Tidak harus semua perguruan tinggi pindah. Misalnya UI (Universitas Indonesia) buka cabang di sini (Kaltim). Karena sudah ada perguruan tinggi setempat, yang ditingkatkan grade-nya,” kata perempuan berkerudung ini. Wakil Ketua Komisi X DPR RI ini menuturkan, mestinya peningkatan mutu perguruan tinggi yang ada di Kaltim diutamakan. Karena kegiatan IKN ke Kaltim juga membawa dampak sosial. Sehingga memerlukan kajian dan perhitungan yang matang. “Pasti ada perhitungan fasilitas sarana dan prasarana pendidikan dengan kualitas yang seperti apa yang ingin diadakan di sini. Kalau memang ingin serius, jangan hanya sarana infrastrukturnya yang dibangun. Tapi, justru orangnya juga,” pesan dia. (kip/riz/k15)