Penderita kanker di Kaltim selama ini harus bersusah payah mendapat pengobatan. Mereka rela berangkat ke Jawa hanya agar bisa menjalani radioterapi. Kini datang kabar baik. RSUD dr Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) Balikpapan siap mengoperasikan gedung layanan kanker terpadu tahun ini.

 

DINA ANGELINA, Balikpapan

 

KISAH pendirian layanan kanker terpadu ini tidak terlepas dari besarnya keperluan pengobatan kanker. Awalnya Perhimpunan Onkologi Radiasi Indonesia meminta RSKD membuka layanan tersebut. Balikpapan sebagai kota strategis dianggap sudah seharusnya memiliki radioterapi untuk membantu pasien kanker.

Direktur RSKD dr Edy Iskandar mengatakan, selama ini banyak pasien kanker yang mau tidak mau harus bolak-balik ke Jawa untuk mendapatkan layanan radioterapi. Fasilitas itu masih terbatas di Benua Etam. Layanan radioterapi untuk pengobatan kanker hanya terdapat di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda.

“Itu pun selalu penuh dan tidak tertangani semua. Akhirnya kami berpikir sudah harus membuka pelayanan kanker terpadu,” ucapnya kepada Kaltim Post, Rabu (3/2). Selanjutnya RSKD mengajukan rencana pembangunan layanan kanker terpadu ke gubernur Kaltim dan mendapat persetujuan.

Bertepatan dengan Hari Kanker Sedunia hari ini (4/2), Edy memberikan kabar baik bagi penderita kanker di Balikpapan dan sekitarnya. Kini proses pembangunan gedung kanker terpadu sudah memasuki tahun kedua. Lokasinya berada di belakang Gedung Anggrek Hitam, kompleks RSKD. Bangunan itu terdiri dari tiga lantai. “Ada radioterapi untuk penyinaran sel-sel kanker,” ujarnya.

Radioterapi merupakan alat yang memanfaatkan radiasi tenaga nuklir. Alat itu bisa untuk pengobatan kanker setelah operasi atau kasus yang tidak bisa menggunakan metode operasi diganti dengan terapi tersebut. Nantinya radioterapi dan alat pendukung lainnya terletak di lantai 1.

“Kanker setelah operasi dilanjutkan dengan penyinaran radioterapi. Bisa juga kanker yang tidak bisa dioperasi akan mendapatkan penyinaran itu,” ungkapnya. Dia mengatakan, gedung kanker terpadu dibangun secara khusus karena harus bebas radiasi. Bahkan harus menjadi persetujuan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten).

Teknisnya alat radioterapi masuk ke bungker yang memiliki ketebalan dinding hingga 3 meter. Itu syarat yang harus dipenuhi untuk menyimpan alat dengan radiasi. “Saat dilakukan penyinaran tidak boleh bocor atau tembus radiasi. Jadi, memang diatur ketebalannya dan ada bungker,” bebernya.

RSKD telah menyiapkan dua bungker. Rencananya ada dua alat radioterapi. Sementara ini baru ada satu unit yang sudah datang berasal dari Amerika Serikat. Semua sudah siap setting untuk pengobatan kanker. Kemudian untuk lantai 2 dan 3 berfungsi sebagai area pasien rawat inap kemoterapi.

Lantai 2 untuk dewasa dan lantai 3 untuk anak-anak. Total kapasitas 40 tempat tidur. Pihaknya sudah menyiapkan dua lantai untuk area rawat inap. Namun, sementara harus dialihkan sebagai ruang ICU Covid-19. Edy mengatakan, kondisi saat ini pasien Covid-19 terus meningkat.

Terutama yang mendesak adalah keperluan ruang ICU. “Saat ini banyak pasien tertunda masuk ICU, mereka tertahan di UGD (unit gawat darurat),” ungkapnya. Manajemen RSKD memutuskan kembali mengusulkan ke gubernur Kaltim. Sementara lantai 2 dan 3 menjadi ICU Covid-19 karena saat ini lebih urgen.

“Selain radioterapi, ada ruang poli dokter dan ruang konsultasi. Masih ada satu alat bisa 30 pasien per hari,” ucapnya. Berbagai jenis kanker bisa menggunakan pengobatan dari radioterapi. Misalnya, kanker payudara, kanker kandungan, kanker darah, dan sebagainya,

Setidaknya memerlukan 10 tenaga kesehatan untuk operasional radioterapi. Di antaranya dokter, fisikawan medis untuk tenaga ahli, radiografer, dan perawat. “Kami sudah dapat dokter spesialis radioterapi dari UI (Universitas Indonesia) mulai Januari,” tuturnya. Rencananya gedung kanker terpadu bisa beroperasi Maret tahun ini.

“Sekarang masih proses finishing. Nanti akan ada uji coba. Jadi, kemungkinan launching Maret,” terangnya. Edy berharap keberadaan gedung kanker terpadu bisa memberikan manfaat yang besar untuk pengobatan pasien di Kaltim. Layanan radioterapi di Kota Minyak bisa bermanfaat untuk pasien dari daerah lain.

Sebab, tidak semua provinsi punya layanan tersebut. Saat ini radioterapi bisa ditemukan di Makassar dan beberapa kota di Jawa, sehingga semua pasien dari berbagai macam daerah datang ke sana. Pihaknya tentu akan mengutamakan pasien di Kaltim terlebih dahulu.

Bila semua sudah tertangani dan telah mendapat jadwal, ada kesempatan pasien dari luar atau wilayah sekitar. “Seperti Kalsel dan Kaltara yang paling dekat belum punya fasilitas ini,” ujarnya. Dia berharap layanan pengobatan kanker terpadu bisa beroperasi secepatnya sesuai rencana. (rom/k16)