SAMARINDA - Selain hilirisasi dari berbagai komoditas unggulan perkebunan seperti kelapa sawit, Pemprov Kaltim terus menghadirkan komoditas baru. Perluasan komoditas perkebunan diharapkan menjadi sumber perekonomian masyarakat. Tahun ini, Bumi Etam fokus mengembangkan pala dan serai wangi yang dicanangkan menjadi salah satu komoditas unggulan.

Kepala Dinas Perkebunan Kaltim Ujang Rachmad mengatakan, sektor perkebunan berperan penting dalam menyukseskan pelaksanaan strategi transformasi ekonomi. Melalui transformasi ekonomi, diharapkan pembangunan ekonomi akan berbasiskan pengelolaan sumber daya alam terbarukan. Dengan menitikberatkan upaya peningkatan nilai tambah melalui pengembangan industri hilir.

“Selain itu, perkebunan memiliki peran penting dalam pengembangan ekonomi kerakyatan, pengembangan energi baru terbarukan,” tuturnya, Senin (25/1).

Dinas Perkebunan Kaltim tahun ini selain terus mendorong pengembangan lima commodity unggulan tanaman perkebunan, seperti kelapa sawit, kakao, karet, kelapa dan lada, pihaknya juga harus memperluas komoditas lain. “Pada 2021, kami akan fokus mengembangkan tanaman pala dan serai wangi,” ungkapnya.

Pengembangan dua commodity baru berupa tanaman pala dan serai wangi sebagai bahan baku industri atau produksi minyak atsiri. Pala dinilai potensial dan memiliki pasaran yang bagus seperti lada. Apalagi, harganya juga cukup mahal, yakni berkisar Rp 80 ribu per kilogramnya. Apalagi tanaman pala dinilai cukup cocok untuk dikembangkan karena proses pemeliharaannya juga tidak begitu rumit.

Tanaman pala tidak seperti lada yang masa panennya cukup lama. Tanaman pala bisa dipanen setiap hari dengan cara mengumpulkan buah yang sudah jatuh di sekitar pohon. Bahkan tak hanya bijinya, bunga pala yang menempel di bijinya juga dihargai mahal oleh pembeli, yakni mencapai ratusan ribu per kilogramnya. “Pala dan serai wangi ini cukup diminati petani Kaltim,” tuturnya.

Dia menjelaskan, untuk kawasan pengembangannya, sesuai masterplan kawasan perkebunan berbasis korporasi petani yang telah dipetakan berdasarkan potensi masing-masing daerah. Pihaknya berharap pengembangan tanaman pala dan serai wangi bisa lebih diminati banyak petani, sehingga berimbas pada ketersediaan bahan baku untuk industri minyak atsiri.

“Kedua komoditas ini memang menjadi bahan minyak atsiri. Minyak ini merupakan salah satu komoditas ekspor agroindustri potensial sebagai sumber devisa,” ungkapnya.

Terlebih, permintaan pasar untuk minyak atsiri dalam maupun luar negeri semakin meningkat. Terutama untuk memenuhi industri pangan, farmasi, dan kosmetik. “Semoga Kaltim bisa menjadi sentra tanaman pala dan serai wangi, untuk produk minyak atsiri atau turunan minyak atsiri. Sehingga komoditas perkebunan tidak hanya berasal dari kelapa sawit saja,” pungkasnya. (ctr/ndu/k15)